PROBOLINGGO, Radar Bromo–Insiden tenggelamnya Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Tunu Pratama di periran selat Bali, Rabu malam (2/6) juga jadi duka warga Mayangan, Kota Probolinggo. Sebab, seorang warga meninggal diketahui merupakan warga setempat.
Korban meninggal itu diketahui bernama Anang Suryono, 56. Pihak keluarga pun cukup terkejut dengan kabar kepergian Anang.
Terlebih sang anak, bernama Riki Putra, 32. Sebab, beberapa jam sebelumnya sang ayah masih berkirim kabar kepadanya.
Keluarga di Jalan Serma Abdurrahman, Mangunharjo, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, mendapat kabar itu Kamis (3/7) pagi.
Kapal penumpang itu sendiri berlayar dari Ketapang, Banyuwangi menuju Gilimanuk, Bali pada pukul 22.56 WIB. Setelah sekitar 25 menit lepas jangkar, kapal dikabarkan tenggelam.
Berdasarkan data sementara dari siaran pers yang dikeluarkan Kantor Pencarian dan Pertolongan Surabaya, kapal motor itu membawa 53 penumpang dan 12 kru kapal.
Selain itu, ada 22 kendaraan yang menumpang kapal, termasuk di antaranya 14 truk tronton.
Salah satunya adalah truk fuso yang disopiri korban Anang. Korban memang bekerja sebagai sopir truk. Rabu (2/7), korban berangkat dari Mojokerto untuk bongkar muat di Bali.
Riki mengatakan, keluarga baru mengetahui musibah tenggelamnya KMP Tunu Pratama Kamis (3/7) pagi.
Saat itu, korban sudah ditemukan dalam keadaan meninggal di perairan Pebuahan, Jembrana.
“Kami dikabari adik yang juga sopir, bahwa bapak sudah ditemukan dalam keadaan meninggal. Saat itu ditunjukkan fotonya dan benar bapak,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Riki sempat tidak menyangka. Ayahnya terakhir mengirim kabar Rabu (2/7) malam pukul 19.00 atau beberapa jam sebelum kejadian. Saat itu, korban mengabari keluarganya bahwa dia sudah akan naik kapal.
Setelah itu, korban hilang kontak. Namun, keluarga tak ada firasat macam-macam. Sebab, korban sudah sering bolak-balik ke Bali untuk mengirim muatan.
“Kami tidak ada firasat. Terakhir bapak mengabari sudah mau berangkat. Baru dapat kabar tadi pagi (kemarin, Red), kami kaget,” katanya.
Sampai Kamis siang, korban masih berada di RSU Negara dan akan dipulangkan ke rumah duka. Namun, belum bisa dipastikan pukul berapa korban sampai di rumah duka.
“Ini masih proses pengeluaran jenazah. Nanti kalau pulang baru dikabari,” terangnya.
Untuk proses pemulangan jenazah, kata Riki, semua diurus oleh perusahaan tempat ayahnya bekerja. Sehingga, keluarga hanya menunggu di rumah dengan cemas.
Di mata sang anak, ayahnya adalah sosok pekerja keras. Terbukti di usia yang sudah menginjak 56 tahun, dia tetap bekerja sebagai sopir lintas kota.
“Bapak orangnya memang disiplin. Kerja terus biar masa tuanya enak,” terangnya. (ran/hn)
Editor : Muhammad Fahmi