PEMBANGUNAN yang merata direalisasikan oleh Pemerintah Desa (Pemdes) Wonotoro, Kecamatan Sukapura. Program ketahanan pangan menjadi prioritas, namun pemerintah desa tetap melakukan pembangunan infrastruktur desa.
Wilayah Desa Wonotoro masih cukup agraris. Puluhan hektare perkebunan produktif membentang di seluruh wilayah desa. Tak heran jika banyak warga desa bekerja sebagai petani. Sementara sisanya bekerja sebagai peternak dan bekerja di sektor wisata.
Pemerintah desa memperhatikan betul potensi wilayah yang dimiliki oleh desa. Karenanya, untuk menentukan unit usaha ketahanan pangan, pemerintah desa berupaya memaksimalkan potensi yang ada.
Maka diputuskanlah ketahanan pangan penggemukan sapi tahun ini akan dijalankan.
“Dengan potensi yang dimiliki, baik sumber daya alam dan sumber daya manusianya, tahun ini ketahanan pangan penggemukan sapi akan kami jalankan,” kata Kepala Desa Wonotoro Sarwo Slamet.
Untuk merealisasikan program ketahanan pangan tersebut, pemerintah desa telah menganggarkan Rp 124 juta.
Anggaran tersebut nantinya akan digunakan untuk pengadaan sapi dan pembuatan kandang di RT 6/RW 2, Dusun Wonotoro. Sapi tersebut rencananya digemukkan maksimal selama 8 bulan. Lalu sapi akan dijual.
Dalam proses penggemukan tersebut, pengelola akan melakukan pengecekan sekaligus evaluasi.
Sehingga, program ketahanan pangan dapat berjalan sesuai dengan rencana. Serta, mampu memberikan pendapatan kepada desa.
“Sistem evaluasi akan kami lakukan. Sehingga, ketahanan pangan lebih terkontrol. Tentunya diharapkan mampu memberikan hasil yang maksimal,” ucapnya.
Dalam proses penggemukan, hal yang perlu diperhatikan adalah pemberian asupan pakan pada ternak.
Ini dilakukan agar kebutuhan nutrisi ternak terpenuhi. Dengan demikian, bobot sapi yang digemukkan setiap pekannya bisa bertambah.
Untuk merealisasikan hal ini, pemerintah desa dan BUMDes tidak sembarangan merekrut warga sebagai pemelihara sapi.
Tetapi orang yang sudah berpengalaman. Pakan yang diberikan merupakan perpaduan pakan ijonan yang dicampur dengan komposisi yang tepat. Sehingga pakan yang diberikan mampu memenuhi kebutuhan nutrisi harian sapi.
“Ketahanan pangan rencananya akan kami realisasi pada tahap kedua,” bebernya.
Targetkan Jalan-Distribusi Air Bersih Lebih Baik
Jalan yang baik dan nyaman untuk dilintasi menjadi kebutuhan utama warga desa yang tinggal di wilayah dataran tinggi.
Pemerintah Desa Wonotoro kemudian terketuk untuk membangun jalan desa lebih baik lagi. Sebab, kondisi jalan yang baik bukan hanya membuat aktivitas sehari-hari warga desa lebih aman dan nyaman. Jalan yang layak juga membuat proses pembangunan desa lebih merata.
Kepala Desa Wonotoro Sarwo Slamet mengatakan, pihaknya berkomitmen setiap tahunnya ada jalan desa yang dibangun.
Sehingga, semua wilayah desa baik yang lokasinya dekat dengan fasilitas pemerintah, sekolah, dan tempat ibadah maupun pelosok desa semuanya dapat dijangkau oleh warga.
“Setiap tahunnya kami upayakan ada pembangunan jalan. Pembangunan jalan desa yang merata bertahap kami realisasikan,” katanya.
Sarwo menjelaskan, jika tahun ini pemerintah desa akan membangun jalan rabat beton di RT 6/RW 2, Dusun Wonotoro. Ruas jalan ini belum pernah dibangun, sehingga masih berupa tanah.
Saat musim hujan kondisi jalan berlumpur dan licin. Jalan akan menjadi lebih parah saat dilalui oleh kendaraan bermuatan hasil kebun.
Kondisi jalan yang kurang layak ini kemudian sering dikeluhkan oleh warga. Lantas pemerintah desa berupaya merealisasikan pembangunannya pada tahun ini.
“Untuk ruas jalan akan kami realisasikan saat cuaca sudah panas atau saat kemarau. Jika dipaksakan dibangun sekarang, hasilnya tidak akan maksimal,” terangnya.
Pemenuhan kebutuhan air bersih juga menjadi perhatian Pemerintah Desa Wonotoro. Hal ini dilakukan setelah pemerintah desa melakukan pemetaan kondisi pipanisasi air bersih. Lalu menemukan kondisi pipanisasi air di seluruh dusun perlu pemeliharaan.
Pipa tersebut terhubung dari sumber air menuju rumah warga. Anggaran pemeliharaan pipanisasi cukup terbatas.
Sehingga, pemeliharaan tidak bisa dilakukan secara terus-menerus melainkan kondisional menyesuaikan tingkat kerusakannya. Dengan demikian, program pemenuhan air bersih bisa lebih maksimal.
“Air bersih merupakan kebutuhan utama sehingga perlu dipenuhi. Pemeliharaan pipa air bersih akan dilaksanakan di Dusun Wonotoro dan Dusun Mojosari. Total pengguna air sekitar 220 kepala keluarga. Pipanisasi air bersih akan menyalurkan air dari sumber ke rumah warga,” bebernya.
Olah Buah Khas Desa Jadi Lebih Ekonomis
Pemerintah Desa Wonotoro juga terus berupaya mengembangkan potensi alam yang dimiliki. Berada di dataran tinggi, membuat wilayah desa kaya dengan hasil bumi.
Salah satunya tumbuh subur buah karikaya yang merupakan buah khas desa setempat. Buah karikaya memiliki bentuk seperti pepaya berukuran kecil. Memiliki rasa khas manis asam.
Sayangnya, buah tersebut hanya dikonsumsi begitu saja tanpa pengolahan lebih lanjut. Hal ini kemudian membuat pemerintah desa tergerak untuk memproduksi buah karikaya menjadi produk yang memiliki nilai ekonomis yakni mengolahnya menjadi selai dan sirup.
“Ada buah khas yang tumbuh di desa namanya karikaya. Buah ini hanya dimanfaatkan dan dikonsumsi begitu saja tanpa ada pengolahan lebih lanjut. Kami coba olah menjadi produk yang laku di pasaran,” kata Kepala Desa Wonotoro Sarwo Slamet.
Pembuatan selai dan sirup tidak jauh beda dengan pembuatan pada umumnya. Bedanya hanya bahan bakunya saja berupa buah karikaya.
Buah karikaya setengah matang dipilih sebagai bahan dasar utama pembuatan selai dan sirup.
Selanjutnya, buah tersebut dikupas. Setelah bersih akan diambil sarinya dan ditambah dengan bahan-bahan pendukung lainnya. Lalu diproses hingga menjadi selai dan sirup.
Sarwo menjelaskan, jika produk yang diproduksi oleh kader PKK dan pengelola BUMDes ini belum diproduksi secara masal. Melainkan diproduksi dalam jumlah terbatas.
Hanya melayani jika ada pesanan saja. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi makanan hasil produksi tidak habis di pasaran. Selain itu, selai dan sirup diproduksi tanpa menambahkan bahan pengawet. Sehingga masa layak konsumsi hanya berusia singkat.
Walaupun diproduksi dengan jumlah terbatas, makanan ini tetap ready stock. Artinya, ada contoh barang hasil produksi yang bisa dicoba oleh calon konsumen yang ingin membeli. Pemasaran juga turut dilakukan oleh pemerintah desa, kader PKK, dan BUMDes melalui media sosial.
“Untuk saat ini, sementara hanya diproduksi secara terbatas menyesuaikan pesanan. Sebab, selai dan sirup tidak ada pengawetnya, jadi tidak bisa bertahan lama,” tandasnya. (ar/fun/*)
Rencana Pembangunan Tahun 2025
- Membangun jalan rabat beton di RT 6/RW 2, Dusun Wonotoro;
- Pemeliharaan pipa air bersih di Dusun Wonotoro dan Dusun Mojosari;
- Ketahanan pangan penggemukan sapi.