MAYANGAN, Radar Bromo –Tidak hanya menawarkan relokasi di depan taman wisata studi lingkungan (TWSL). Pemkot Probolinggo juga menawarkan tiga tempat relokasi lain pada pedagang yang selama ini menempati toko di depan Masjid Agung Raudlatul Jannah.
Tiga lokasi itu yakni, Pasar Gotong Royong, Pasar Wonoasih, dan Pasar Mangunharjo.
Tiga lokasi ini khusus ditawarkan pada lima pedagang oleh-oleh haji/umrah yang sebelumnya tidak kebagian tempat relokasi.
Kepala Dinas Koperasi Usaha Mikro dan Perdagangan (DKUP) Kota Probolinggo Fitriawati menjelaskan, pihaknya sudah mengundang dan menyosialiasikan tawaran ini pada para pedagang di depan Masjid Agung.
Intinya, pemkot menawarkan tiga tempat relokasi yang lain, selain tempat relokasi pertama yaitu toko-toko di depan TWSL.
”Kami tawarkan pada pedagang (oleh-oleh haji/umrah) untuk relokasi ke tiga lokasi yang lain. Ini cara pemkot menfasilitasi tempat relokasi supaya para pedagang tetap bisa berjualan,” katanya.
Namun, Fitri (panggilannya) kembali menegaskan, tidak ada kewajiban dari pemkot untuk menyediakan tempat baru bagi para pedagang tersebut. Namun, pemkot beriktikat baik dan tidak lepas tangan begitu saja.
Tentu saja, tempat relokasi yang ditawarkan statusnya adalah Barang Milik Daerah (BMD).
DKUP menurutnya, tidak bisa menfasilitasi tempat relokasi di luar BMD. Misalnya, relokasi di sekitar kawasan Masjid Agung. Sebab, di sana tidak ada toko yang berstatus BMD.
”Kami hanya bisa memfasilitasi tempat relokasi yang statusnya BMD. Kalau di luar BMD, tidak bisa. Silakan sewa sendiri kalau ingin tetap jualan di sekitar Masjid Agung,” tegasnya.
Sementara itu, Bambang selaku ketua Paguyuban Pedagang Oleh-oleh Haji/Umrah di depan Masjid Agung saat dikonfirmasi menegaskan, pihaknya belum bisa memberikan jawaban atas tawaran itu.
Dalam pertemuan dengan DKUP, para pedagang meminta solusi terbaik. Yaitu, tetap berjualan di depan Masjid Agung.
Namun, DKUP tetap tidak menerima tawaran tersebut. Justru, memberikan opsi relokasi di tiga lokasi lain selain di depan Masjid Agung.
Sayangnya, paguyuban menilai tiga tempat opsi relokasi yang ditawarkan DKPU kurang representatif dan tidak strategis. Karena itu, paguyuban belum menerima tawaran tersebut.
”Kami diberi pilihan untuk pindah ke Pasar Mangunharjo, Pasar Gotong Royong, dan Pasar Wonoasih. Semua lokasi itu, jauh dari Masjid Agung. Saya dan pedagang belum bisa menerima tawaran relokasi itu,” tuturnya.
Bambang berharap, permohonan rapat dengar pendapat (RDP) ke DPRD segera direspons dan difasilitasi.
Supaya masalah ini dapat dibahas bersama DPRD dan dicarikan solusi terbaik. Intinya, tidak merugikan pedagang yang selama ini sudah berjualan di depan Masjid Agung. ”Kami masih menunggu rapat dengar pendapat dengan DPRD,” ujarnya.
Sebagai informasi, tidak semua pedagang oleh-oleh haji/umrah di depan Masjid Agung bersedia direlokasi.
Jumat pagi (13/6), mereka menggelar aksi damai di depan Masjid Agung dan menolak direlokasi. Mereka mendesak Pemkot Probolinggo tetap memberikan tempat berdagang di sekitar kawasan alun-alun atau di sekitar Masjid Agung. (mas/hn)
Editor : Muhammad Fahmi