Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

TNBTS Digeruduk, Sistem Masuk Bromo dengan Barcode Dinilai Ruwet, Kerap Picu Macet Panjang

Inayah Maharani • Senin, 5 Mei 2025 | 08:35 WIB

 

PROTES: Sejumlah pelaku usaha jip wisata melurug kantor TNBTS, Minggu (4/5) pagi. Mereka protes karena ruwetnya sistem masuk kendaraan wisata ke kawasan TNBTS. (Screenshoot)
PROTES: Sejumlah pelaku usaha jip wisata melurug kantor TNBTS, Minggu (4/5) pagi. Mereka protes karena ruwetnya sistem masuk kendaraan wisata ke kawasan TNBTS. (Screenshoot)

SUKAPURA, Radar Bromo– Sistem masuk ke kawasan wisata Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) dinilai terlalu ruwet. Bahkan, sampai menimbulkan kemacetan dan antrean panjang. Kondisi ini membuat pelaku usaha jip wisata merasa tak nyaman.

Puncaknya, pelaku usaha jip pun beramai-ramai menggeruduk Pos Tiket milik TNBTS, Minggu (4/5) pagi di Cemorolawang, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura.

Sekitar pukul 06.45, puluhan sopir jip wisata spontan protes. Mereka keluar dari jip masing-masing, lalu mendatangi Pos Tiket TNBTS. Jip pun ditinggal begitu saja, menyebabkan macet makin panjang.

Mereka memprotes sistem masuk yang dinilai ruwet. Perubahan sistem pembelian tiket yang kini harus dipesan secara online mengharuskan wisatawan melakukan scan barcode di Pos Tiket.

Choirul Umam, salah satu supir jip wisata yang ikut protes mengatakan, protes ini imbas dari perubahan sistem masuk ke kawasan TNBTS.

Dulu, wisatawan  bisa langsung masuk ke kawasan TNBTS. Mereka cukup membeli tiket di Pos Tiket dan membayarnya cash.

Sejak akhir 2019, penjualan tiket manual dihentikan. Lalu sejak 1 Januari 2020 pemesanan tiket TNBTS dilakukan secara online.

Bahkan, rombongan yang menggunakan EO atau jasa travel diwajibkan menggunakan sistem booking online sejak 1 Desember 2019.

Dengan cara ini, semua wisatawan masuk ke kawasan TNBTS dengan cara scan barcode yang didapat saat pemesanan online. Scan barcode dilakukan di Pos Tiket yang ada di Cemoro Lawang.

Pelaksanaannya bisa dilakukan dengan dua cara. Yaitu, scan mandiri oleh wisatawan atau pelaku jasa wisata yang sudah membeli tiket secara online. Atau scan barcode dilakukan oleh petugas.

Pada prosesnya, cara ini menyebabkan antrean panjang. Bahkan, sesaat sebelum protes dilakukan, antrean jip mencapai 5 kilometer. Mulai Pos Tiket di Cemoro Lawang sampai di Pendapa Agung Desa Ngadisari.

“Antrean panjang ini membuat wisatawan merasa tidak nyaman. Sehingga akhirnya, kami sopir jip spontan protes,” terang Umam.

Umam menyebut, mekanisme masuk yang dilakukan TNBTS ini tidak praktis. Selain itu, penggunaan sistem barcode sebagai syarat masuk wisatawan memakan waktu lama.

Penyebabnya, alat scan barcode yang disediakan terbatas. Akibatnya, terjadi antrean panjang karena lamanya proses scan tiket.

Padahal menurut Umam, wisatawan rela berangkat dini hari untuk bisa menikmati momen sunrise di Gunung Bromo. Namun, mereka harus kehilangan momentum itu hanya karena lamanya antrian di Pos Tiket.

“Kami sebagai pelaku usaha kasihan sama wisatawan. Mereka dari mancanegara jauh-jauh mau melihat sunrise. Eh, malah dibuat antri panjang dan jadinya telat. Dak bisa lihat sunrise,” katanya.

Tak hanya itu. Menurut Umam, rekan-rekannya sesama pelaku usaha jip dan hotel merasa nelangsa akibat harga tiket wisata Bromo yang naik dua kali lipat. Dampaknya, wisatawan jadi sepi.

Dulu harga tiket masuk di hari biasa Rp 29 ribu per orang untuk wisatawan lokal dan Rp 220 ribu untuk wisatawan mancanegara.

Setelah kenaikan, naik menjadi Rp 54 ribu per orang untuk wisatawan lokal dan Rp 255 ribu untuk wisatawan mancanegara.

Lalu, harga tiket di saat weekend jauh lebih mahal. Dari Rp 34 ribu per orang menjadi Rp 79 ribu untuk wisatawan lokal. 

Dengan harga tiket yang lebih mahal, pihaknya berharap setidaknya TNBTS dapat memperbaiki manajemen.

Termasuk sistem barcode saat masuk. Juga fasilitas lain seperti kamar mandi yang kerap antre, karena jumlahnya yang tak mencukupi. 

“Harga tiket naik tidak apa-apa, asalkan ada hasilnya. Ini barcode saja minim, akhirnya antre panjang. Bahkan kamar mandinya juga sangat antre,” terangnya.

Jawa Pos Radar Bromo mengonfirmasi masalah ini pada otoritas TNBTS, Budi. Namun, yang bersangkutan tidak mau dikonfirmasi.

Alasannya, konfirmasi harus dilakukan satu pintu ke Ketua Tim Data Evaluasi, Pelaporan, dan Kehumasan Balai Besar TNBTS Hendra Wisantara.

Konfirmasi pun dilakukan juga pada Hendra, petugas lainnya. Namun, yang bersangkutan belum merespon panggilan dan pesan WhatsApp yang dikirim.

Sementara Kepala Balai Besar TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha mengaku, pihaknya akan menelusuri akar masalah dari protes itu. Menurutnya, selama ini di hari libur besar kondisi macet itu tidak terjadi.

Dia menduga, bisa saja kondisi macet disebabkan oleh hal lain. Bukan karena sistem masuk yang diberlakukan selama ini.

“Masih akan kami pastikan. Menurut laporan tim, katanya banyak dari pelaku usaha tidak booking tiket. Itulah yang membuat macet. Tapi masih akan kami kroscek,” jelasnya.  (ran/hn)

Editor : Muhammad Fahmi
#tiket masuk #barcode #jip bromo #wisatawan #bromo #tnbts #digeruduk