PROBOLINGGO, Radar Bromo - Suhu dingin yang mencapai 14 derajat tak menyurutkan warga muslim di Suku Tengger untuk menunaikan Salat Ied.
Meski hawa dingin serasa menusuk kulit, ratusan warga tampak antusias menjalankan ibadah berjamaah.
Mereka berbaris rapi, membentuk shaf salat di Masjid Al Hidayah. Masjid tersebut, berada di dekat Balai Desa Wonokerto, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo.
Saking antusiasnya, bahkan jemaah meluber hingga ke halaman balai desa, Senin (31/3).
Salat dimulai tepat pada pukul 06.30, diikuti oleh berbagai kalangan masyarakat.
Baik kalangan muda hingga tua, laki-laki ataupun perempuan. Seluruhnya tampak khusuk melaksanakan salat setahun sekali ini.
Kepala Desa Wonokerto, Heri Dri Hartono mengatakan bahwa desanya tersebut adalah satu-satunya yang seluruh penduduknya beragama muslim di antara desa sekitar Gunung Bromo yang mayoritas beragama Hindu.
“Karenanya, setiap tahunnya kami melaksankan Salat Ied bersama, setelah melaksanakan puasa selama sebulan,” tuturnya.
Heri juga menyampaikan bahwa Masjid Al Hidayah merupakan masjid terakhir alias tertinggi di daerah tersebut.
Sebab setelah itu, tak ada masjid lagi di daerah mendekati Gunung Bromo.
“Jadi kalau ada salat seperti Salat Idul Fitri, Salat Jumat, ataupun tarawih, penduduk muslim yang dari daerah atas itu turun ke sini. Memang masjid ini, jadi jujugan,” ungkapnya.
Heri menambahkan, persiapan untuk memanfaatkan Masjid Al Hidayah sebagai lokasi Salat Idul Fitri, telah dimulai sejak malam takbir.
Mulai dari membersihkan lokasi masjid, menyiapkan sound hingga penyiapan karpet untuk para jemaah.
Setelah Salat Ied, acara dilanjutkan dengan pembacaan kutbah oleh imam. Para warga tenang dan khusuk dalam mendengarkan kutbah tersebut hingga selesai.
Setelahnya mereka beranjak pulang. Tak lupa, tiap tangan saling menjabat antar sesama masyarakat. Suara petasan juga bertautan memeriahkan momen Lebaran tahun ini. (gus/one)
Editor : Achmad Syaifudin