LECES, Radar Bromo - Pemerintah menetapkan Hari Raya Idul Fitri 1446 Hijriyah jatuh pada Senin (31/3). Salat Id pun digelar hari itu di seluruh Indonesia.
Namun, masyarakat muslim Alif Rebo Wage (Aboge) di Dusun Krajan Desa/Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo punya hitungan sendiri.
Mereka baru melaksanakan salat Idul Fitri, Selasa (1/4) di Musala Al-Barokah di Leces.
Meskipun selisih satu hari dengan Hari Raya Idul Fitri yang ditetapkan oleh pemerintah, namun pelaksanaan Salat Id oleh puluhan muslim Aboge itu berlangsung khusyuk.
Gema takbir berkumandang di musal diiringi dengan tabuhan bedug. Seakan memanggil para jamaah untuk segera datang.
Puluhan jamaah pun berdatangan memenuhi musala. Bahkan, beberapa jamaah rela menggelar sajadah di halaman musala untuk mengikuti salat yang dilaksanakan setahun sekali ini.
Tepat pukul 06.30 salat Idul Fitri pun mulai dilaksanakan. Tokoh masyarakat, sekaligus sesepuh jamaah aboge Kiai Buri Mariyeh, 80, mengatakan, penetapan Idul Fitri jamaah Aboge berpedoman pada Kitab Mujarobat.
Dengan dasar hitungannya sawal siji loro atau waljiro. Yakni hari siji (pertama, Red) dan pasaran loro (dua, Red).
Tahun ini 1 Suro/1 Muharam bertepatan dengan tahun Je/Za (Je/Za Sahing atau Selasa Pahing).
Sehingga, Idul Fitri dengan patokan waljiro jatuh pada hari ke-1 dan hari ke-2. Yakni selasa pon 1 April 2025.
“Dengan perhitungan yang telah dilakukan. Jamaah Aboge tahun 2025 merayakan Hari Raya Idul Fitri pada Selasa Pon (1/4),” katanya.
Baca Juga: Aboge Leces Probolinggo Baru Idul Adha Rabu, Tetap Berpengang pada Ji-Pat-Ji
Kiai Mariyeh menjelaskan, jamaah Aboge sebenarnya tidak berbeda dengan umat Islam pada umumnya. Mulai dari salat, puasa dan kewajiban yang harus dilakukan, tetaplah sama.
Hanya saja dalam hal penentuan awal bulan Ramadhan serta Idul Fitri berpatokan pada perhitungan kitab mujarobat yang dipercaya sejak dulu.
Masyarakat Aboge juga begitu rukun dengan umat Islam lainnya. Karena itulah, walaupun ada perbedaan dalam hal perhitungan puasa dan hari raya, tidak menimbulkan dampak bagi masyarakat.
Bahkan masyarakat menghormati dan memaklumi jamaah aboge. “Tidak ada perbedaan dengan jamaah Islam pada umumnya. Hanya berbeda perhitungan puasa dan hari rayanya saja,” bebernya.
Salah satu jamaah Aboge, Riyadi, 40, mengatakan, pelaksanaan salat Id berlangsung husyuk.
Setelah salat, jamaah langsung melakukan salam-salaman dengan sesama jamaah.
Dilanjutkan dengan menggelar pembacaan yasin sebagai wujud syukur. Kemudian rangkaian Salat Id ditutup dengan rasulan (makan bersama, Red).
“Setelah salat, kami selalu melakukan rasulan. Selesai itu pulang ke rumah silaturahmi dengan tetangga. Sama seperti masyarakat pada umumnya setelah turun salat id. Masyarakat tetap hidup guyub dan rukun,” imbuhnya. (ar/hn)
Editor : Moch Vikry Romadhoni