PROBOLINGGO, Radar Bromo- Kota Probolinggo kembali diramaikan oleh tradisi tahunan, Petolekoran yang dilakukan masyarakat Desa Gili Katapang, Sumberasih, Kabupaten Probolinggo.
Sejak Kamis (27/3)pagi hingga malam, Pelabuhan Tanjung Tembaga dipadati warga yang menyeberang menggunakan perahu.
Mereka menyeberang dari Pulau Gili Ketapang ke pelabuhan di Kota Probolinggo. Kemudian, berbelanja aneka kebutuhan Lebaran atau sekadar berkeliling di kota.
Petolekoran berasal dari bahasa Madura "petolekor" yang berarti dua puluh tujuh. Tradisi ini menjadi momen istimewa bagi warga Gili Ketapang menyeberang ke Kota Probolinggo.
Begitu perahu sandar, warga segera mencari kendaraan menuju pusat pertokoan. Ada yang menggunakan becak, betor, tosa, bahkan membawa kendaraan sendiri. Seperti motor dan sepeda listrik.
Adi, 32, salah satu warga Gili Ketapang mengatakan, tradisi ini sudah menjadi kebiasaan turun-temurun.
"Setiap 27 Ramadan, kami pasti ke Kota Probolinggo. Kadang sendirian, kadang bersama keluarga atau teman," ujarnya.
Kegiatan yang dilakukan warga selama di kota beragam. Ada yang sekadar jalan-jalan, ada pula yang fokus berbelanja, terutama untuk kebutuhan Lebaran. Seperti baju baru dan kue Lebaran.
"Biasanya kami di sini dari pagi sampai malam, baru pulang. Tapi ada juga yang menginap dan pulang keesokan harinya," tambah Adi.
Hal serupa diungkapkan Siti Aminah, 60. Baginya, Petolekoran adalah perayaan tahunan yang tak boleh dilewatkan. Ia bersama keluarga besarnya berangkat dengan kapal sejak pukul 06.30 menuju kota.
"Ini semacam pesta bagi warga Gili. Semua harus ke Kota Probolinggo, belanja baju dan jajan untuk Lebaran," katanya.
Tak hanya menjadi momen tahunan bagi warga Gili, tradisi ini juga membawa berkah bagi pelaku usaha. Terutama jasa transportasi.
Saiful, 60, pengemudi betor asal Kecamatan Mayangan mengaku, di momen itu dia dua kali mengangkut penumpang warga Gili. Walapun di tahun-tahun sebelumnya, bisa tujuh kali antar-jemput.
"Biasanya mereka minta diantar ke toko atau pasar. Sekali antar biayanya Rp 20 ribu," ujarnya.
Selain betor, kapal yang dipakai warga Gili menyeberang juga ketiban berkah. Heri, 45, juru kemudi kapal asal Gili mengatakan, selama Petolekoran, dia bisa menyeberangkan warga lebih banyak dari biasanya.
Umumnya, perjalanan kapal tergantung pada jumlah penumpang. Kalau ramai, bisa lebih dari sekali angkut.
“Tarifnya Rp 10 ribu per orang. Sekali angkut bisa sampai 30 orang dalam satu kapal," katanya.
Koordinator Penyeberangan Gili Ketapang Suryono, 65, mencatat, hingga siang hari sudah ada sekitar 23 kapal yang berlabuh di Pelabuhan Tanjung Tembaga.
Ia memperkirakan, total kapal yang beroperasi tahun ini hanya sekitar 30 hingga 40 unit. Lebih sedikit dibanding tahun lalu yang mencapai 50 kapal.
"Jumlahnya menurun karena kondisi perekonomian warga Gili terdampak cuaca ekstrem. Hasil tangkapan laut menurun atau yang mereka sebut laep. Ditambah cuaca masih sering hujan. Akhirnya, banyak warga yang tidak ikut Petolekoran tahun ini," jelasnya.
Meski begitu, tradisi Petolekoran tetap menjadi momen penting bagi masyarakat Pulau Gili.
Selain sebagai ajang berkumpul dan berbelanja, tradisi ini juga menjadi penghubung erat antara warga pulau dengan Kota Probolinggo. (gus/hn)
Editor : Muhammad Fahmi