PROBOLINGGO, Radar Bromo- Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1446 Hijriah, permintaan kue kering khas lebaran terus meningkat. Para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang bergerak di bidang pembuatan kue pun mulai kebanjiran pesanan.
Salah satu pelaku usaha kue lebaran, Diah Sri Hartati, 43, mengungkapkan, sejak awal Ramadan sudah membuka slot pemesanan kue lebaran. Tahun ini, ia membuka pemesanan sejak Jumat (7/2) dan baru close order, Sabtu (8/3).
“Tahun ini sama dengan tahun kemarin. Saya mendapat pesanan total sekitar 1.500 toples kue kering,” ujar warga Kelurahan Jati, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo ini.
Diah menawarkan kuenya kepada pelanggan setianya melalui pesan singkat. Tak jarang juga menggunggah pengumuman tentang pemesanan kue lebaran di media sosial. Beragam kue disiapkan. Seperti nastar, kastengel, dan putri salju. “Banyak pelanggan yang memang setiap tahunnya pesan di sini,” katanya.
Demi mengejar waktu agar dapat selesai tepat sebelum Lebaran, Diah mempekerjakan 12 karyawan. Setiap karyawan memiliki tanggung jawab sendiri-sendiri. Ada yang bertugas memanggang kue, packing, dan finishing.
Setiap toples kue kering dibandrol dengan harga beragam. Mulai Rp 75 ribu hingga Rp 85 ribu. Sementara, untuk bentuk hempers dijual dengan harga Rp 175 ribu isi 3 toples kecil. “Kue ini kuat dalam waktu 6 bulan di dalam suhu ruang. Jadi sangat cocok untuk hampers ramadan atau hadiah untuk orang terkasih di hari yang fitri,” tutupnya.
Salah satu pembeli Munaya, 55, mengaku telah mempersiapkan kue lebaran sejak awal Ramadan hingga maksimal pada H-15 Lebaran. Sengaja memesan lebih awal agar tidak mepet.
“Meski keberadaan kue di hari raya tidak wajib, tapi ini bentuk rasa kasih kami terhadap keluarga dan tamu yang mungkin baru setahun sekali ketemu,” katanya.
Munaya lebih memilih memesan dibanding membuat sendiri di rumah. Menurutnya, membeli lebih praktis. “Tahun ini saja saya merogoh Rp 1 juta untuk kue lebaran. Lebih tinggi ketimbang tahun kemarin yang hanya habis Rp 750 ribu,” katanya. (gus/rud)
Editor : Ronald Fernando