DRINGU, Radar Bromo- Memasuki Ramadan 1446 Hijriah, harga bawang merah di Pasar Bawang Dringu, Kabupaten Probolinggo, mulai terkerek naik. Jumat (8/3), paling murah Rp 13.000 dan paling mahal mencapai Rp 38.000 per kilogram.
Sebetulnya, harga bawang merah di Pasar Bawang Dringu memang fluktuatif. Februari lalu, harganya sempat turun dibanding Januari. Bulan ini yang bertepatan dengan Ramadan, kembali naik.
Koordinator Pasar Bawang Dringu Sugiyono menjelaskan, kenaikan harga bawang merah sudah terjadi sejak seminggu lalu. Sejak menjelang Ramadan. Kenaikan ini disebabkan naiknya permintaan, terutama untuk pembeli dari luar kota.
“Salah satunya karena banyak tengkulak dari luar kota yang datang,” katanya.
Sebagai contoh, Jumat (8/3), harga bawang merah tanggung besar Rp 34.000 sampai Rp Rp.35.000 per kilogram. Harganya naik sekitar Rp 12.000 dari bulan sebelumnya. Senin (10/2), hanya hanya Rp 22.000 sampai Rp 24.000 per kilogram.
Harga bawang merah beragam. Disesuaikan dengan ukurannya. Mulai dari kecil hingga yang berukuran super.
Di sisi lain, stok bawang merah di Pasar Bawang Dringu, tergolong minim. Jumat lalu ada 45 ton. Meski stok itu dinilai cukup untuk men-cover semua permintaan.
“Sejumlah 45 ton memang tidak terlalu banyak, tapi cukup,” katanya.
Terpisah, Fungsional Penjamin Mutu Produk DKUPP Kabupaten Probolinggo Ridwan Hidayat membenarkan harga bawang merah mulai naik. Disebabkan adanya lonjakan permintaan dari luar daerah.
“Dari monitoring yang kami lakukan, harga bawang merah fluktuasi. Kenaikan harga disebabkan permintaan mendadak dalam jumlah yang besar,” katanya.
Dari sisi petani sendiri, sebetulnya walau harga bawang merah naik, tak berarti mereka menjadi untung. Sebab, kualitas barang tidak bagus akibat hama dan cuaca.
Salah seorang petani bawang merah asal Desa Sekarkare, Kecamatan Dringu, Solihin, 49, mengatakan, akibat kualitas yang buruk, memengaruhi jumlah bawang merah yang dapat dijual. Meski harganya tinggi, nyatanya petani yang memiliki sawah seluas 300 meter hanya mampu memanen bawang merah tak sampai satu ton.
“Kalau bagus biasanya sampai tiga ton. Kalau lagi jelek, tak sampai tiga ton. Jadi tetap rugi. Namun, ya Alhamdulillah ketimbang harganya anjlok,” katanya.
Tak jarang dari mereka memutuskan untuk vakum dari menanam bawang merah. Sebab, biaya yang dikeluarkan tak sebanding dengan hasil penjualan saat panen. “Saya sudah tiga bulan ini tidak menanam, menunggu nanti cuaca lebih baik,” ujarnya. (mg/rud)
Editor : Ronald Fernando