DI Dusun Kerpangan Selatan, Desa Kerpangan, Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo, berdiri sebuah musala kuno. Usianya diperkirakan lebih dari 80 tahun. Bangunan kecil ini tetap berdiri kokoh dan lestari meski zaman terus berubah.
Musala ini tanpa nama. Ukurannya sekitar 5 meter kali 5 meter. Dibangun dengan struktur sederhana. Semipermanen. Namun, penuh nilai sejarah. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu. Tiang utamanya menggunakan kayu bintaos yang ditancapkan langsung ke dalam fondasi.
Lantainya dibuat lebih tinggi sekitar satu meter dari tanah. Tetap mempertahankan ciri tradisional dengan material bambu. Di salah satu sudut ruangan terdapat foto seorang habib. Selain itu, juga ada sejumlah rehal yang juga terbuat dari kayu.
“Masyarakat menyebutnya dengan istilah katthok,” ujar salah seorang warga Dusun Kerpangan Selatan, Mujena, 80.
Ia mengatakan, sejak dirinya masih kecil, musala ini sudah ada. Bahkan, orang tuanya yang hidup lebih dahulu telah mengenalnya. “Dari dulu sudah seperti ini kata orang tua saya. Baik ukuran maupun bentuknya tidak ada yang berubah,” kenangnya.
Beberapa bagian musala telah diperbaiki. Seperti genting dan dindingnya pernah diganti dengan yang baru. Namun, secara keseluruhan, bangunan ini masih mempertahankan keasliannya.
“Hanya genting dan sesek yang diganti. Yang lainnya tetap sama seperti dulu,” katanya Mujena.
Dulu, para jemaah yang ingin berwudu harus berjalan ke sumur tua yang terletak di belakang rumah Mujena. Jaraknya sekitar 20 meter dari musala. Namun, kini kemudahan telah hadir dengan adanya pompa air yang dipasang di samping musala.
“Jemaah bisa wudu di sana,” katanya.
Meski telah lebih dari 80 tahun, musala ini tetap menjadi tempat ibadah dan belajar ilmu agama bagi warga sekitar. Terutama bagi anak-anak. Setiap sore selepas Magrib hingga Isya, sekitar 12 anak berusia antar 5 hingga 12 tahun datang untuk salat berjemaah dan belajar mengaji Alquran.
“Alhamdulillah masih ada anak-anak yang belajar di sini. Setiap malam mereka datang untuk mengaji dan salat berjamaah," ujar salah seorang guru ngaji di musala ini, Haryanto, 70.
Ketika Ramadan, kegiatan keagamaan di musala ini semakin hidup. Selain pengajian, juga diadakan salat tarawih dan tadarus bersama. Meski hujan dan menyebabkan beberapa bagian atap bocor, semangat ibadah jemaah tetap menyala.
“Kalau bocor, kami tinggal menepi mencari tempat yang lebih kering,” kata Haryanto, sambil tersenyum.
Musala tua ini bukan sekadar bangunan. Melainkan bukti perjalanan iman yang diwariskan secara turun-temurun. Meski kecil dan sederhana, tetap menjadi tempat bertemunya doa, harapan, dan kebersamaan warga Dusun Kerpangan Selatan. (gus/rud)
Editor : Fahreza Nuraga