Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Begini Sejarah Kereta Api Masuk di Probolinggo

Inneke Agustin • Minggu, 23 Februari 2025 | 13:30 WIB
JALUR KUNO: Jalur Staatssporwegen (SS) di Kota-Kabupaten Probolinggo pada masa pemerintahan kolonial
JALUR KUNO: Jalur Staatssporwegen (SS) di Kota-Kabupaten Probolinggo pada masa pemerintahan kolonial

PROBOLINGGO, Radar Bromo- Perkeretaapian di Indonesia dimulai ketika pembuatan jalur kereta api pertama Semarang-Vorstenlanden (Solo-Jogjakarta) di Desa Kemijen. Jalur ini didirikan oleh Gubernur Jendral Hindia Belanda Mr. L.A.J Baron Sloet van de Beele, pada 17 Juni 1864.

Pembangunannya dilaksanakan oleh perusahaan swasta Nederlansch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM). Menggunakan lebar sepur 1.435 milimiter.

Selain itu, Pemerintah Hindia Belanda juga membangun jalur kereta api di Indonesia melalui perusahaan Staatssporwegen (SS). Jalur pertama yang terbentuk adalah Surabaya-Pasuruan-Malang, pada 8 April 1875.

“Kemudian, jalur tersebut diperpanjang ke Probolinggo. Kira-kira sepanjang 40 kilometer dan diresmikan pada 3 Mei 1884,” ujar Pegiat Sejarah Pojok Literasi Kota Probolinggo, Edi Martono.

Selain jalur yang dibuat oleh SS, ada juga investor swasta yang membangun jalur kereta api lain di Probolinggo. Namanya Probolinggo Stoomtram Maatschappij (PbSM). Pembangunannya berdasarkan besluit tertanggal 15 Desember 1894 Nomor 6 oleh Pemerintah Kolonial.

Edi mengatakan, jalur milik PbSM berdampingan dengan jalur milik SS. Namun, lebih ke tengah kota.

“Sebab, tujuannya untuk mengangkut komoditas kebun ke pabrik gula (PG). Antara lain PG Bagu, PG Paiton, PG Kandangjati, PG Pedjarakan, dan PG Sebaung,” jelasnya.

Jalur pertama yang dibuka PbSM Jalur Jati-Gending sepanjang 10 kilometer dan Jalur Gending-Jabung sepanjang 19 kilometer. Dua jalur ini dibangun pada 21 April 1897. Kemudian, pada 22 Juni 1897 dibangun jalur Probolinggo-Jati, sepanjang 1 kilometer.

Setahun kemudian dibuat jalur Jabung-Paiton, sepanjang 5 kilometer. Tepatnya pada 22 Juni 1898. Pada 22 September 1898, PbSM membangun jalur baru, Jati-Probolinggo Pelabuhan sepanjang 3 kilometer. Terakhir, membangun jalur Kraksaan-Kalibuntu sepanjang 2,8 kilometer pada Mei 1900.

Edi mengatakan, pada masa Pemerintahaan Hindia Belanda, kedua perusahaan, baik SS maupun PbSM masih sama-sama beroperasi. Namun, ketika Jepang berkuasi, pamor PbSM mulai redup. Sisa rel yang dulu pernah terpakai terbengkalai. Lambat laun tertutup aspal jalan.

Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, stasiun dan kantor pusat kereta api yang sebelumnya dikuasai Jepang diambil alih. Puncaknya adalah pengambil alihan Kantor Pusat Kereta Api Bandung pada 28 September 1945. Sekaligus menandai berdirinya Djawatan Kereta Api Indonesia Republik Indonesia (DKARI).

Ketika Belanda kembali ke Indonesia pada 1946, Belanda membentuk kembali perkeretaapian di Indonesia. Bernama Staatssporwegen atau Verenigde Spoorwegbedrif (SS/VS). Gabungan SS dan seluruh perusahaan kereta api swasta (kecuali DSM).

Pada Desember 1949, melalui perjanjian Konfrensi Meja Bundar (KMB) dilakukan pengambilalihan kembali aset-aset milik Pemerintah Hindia Belanda. Pengalihan ini dilakukan dalam bentuk penggabungan antara DKARI dan SS/VS menjadi Djawatan Kereta Api (DKA) pada 1950. Kemudian, pada 25 1963 Mei, DKA berganti menjadi Perusahaan Negara Kereta Api (PNKA).

Selanjutnya, pemerintah mengubah struktur PNKA menjadi Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) pada 1971. Dalam rangka meningkatkan pelayanan jasa angkutan, PJKA berubah bentuk menjadi Perusahaan Umum Kereta Api (Perumka) pada 1991. Perumka berubah lagi menjadi Perseroan Terbatas, yaitu PT Kereta Api (Persero) pada 1998. Pada 2011, nama PT Kereta Api (Persero) berubah menjadi PT Kereta Api Indonesia (Persero).

Sementara, pascakemerdekaan jalur-jalur PbSM mulai mangkrak. Bahkan, sebagian di antaranya dicabut. Kemudian, beberapa aset peninggalannya dipelihara pemerintah dan PT Kereta Api Indonesia (PT KAI).

“Sehingga, tentu beberapa aset PT KAI ada di sekitar jalur-jalur yang dulunya dilalui jaringan SS dan PbSM,” jelasnya. (gus/rud)

Editor : Ronald Fernando
#kai #kereta api #probolinggo #PJKA