KANIGARAN, Radar Bromo - Pemerintah telah menetapkan pembelian gas elpiji subsidi 3 kg atau elpiji melon sepenuhnya hanya dilayani di pangkalan resmi Pertamina. Termasuk di Kota Probolinggo
Namun, masih banyak pengecer yang menjual gas elpiji subsidi secara langsung. Salah satunya Hartatik.
Dia mengaku menjual gas elpiji subsidi dengan harga Rp 20 ribu. Sementara kulakannya Rp 18 ribu.
”Saya ambilnya dari pangkalan yang kirim ke toko saya. Terus warga sekitar membeli karena dekat juga,” katanya.
Penjelasan Hartatik seirama dengan keterangan Linda, 29, warga Kelurahan Kebonsari Wetan, Kanigaran.
Menurutnya, dia lebih suka membeli gas elpiji subsidi 3 Kg di toko dekat rumahnya. Karena lebih praktis.
“Apalagi, saya tidak tahu tempat-tempat pangkalan resmi di kota. Dari pada bingung cari pangkalan, lebih baik beli di toko pengecer,” ujarnya.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Heppy Wulansari mengatakan, pemerintah melalui Kementrian ESDM menetapkan bahwa pembelian elpiji 3 kg hanya dilayani di pangkalan resmi Pertamina.
Hal itu berlaku sejak 1 Februari 2025. Dengan demikian, pengecer tidak lagi dapat menjual gas elpiji subsidi tersebut.
”Secara prinsip Pertamina Patra Niaga akan menjalankan kebijakan yang ditetapkan oleh Pemerintah melalui Kementrian ESDM terkait distribusi elpiji 3 kg. Masyarakat diimbau membeli langsung di pangkalan resmi,” katanya.
Ahad Rahedi, Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus menambahkan, pembelian di pangkalan resmi lebih murah harganya dibandingkan membei di pengecer.
Sebab, harga yang dijual sesuai dengan HET yang ditetapkan pemerintah daerah masing-masing wilayah. Yaitu Rp 18 ribu.
Selain itu, pembelian di pangkalan resmi elpiji 3 kg juga lebih dijamin takarannya. Karena pangkalan menyiapkan timbangan, masyarakat dapat memastikan berat elpiji 3kg.
Di Kota Probolinggo sendiri, ada 181 pangkalan yang menjual gas elpiji dengan harga HET.
Sementara total jumlah pangkalan elpiji 3 kg Pertamina Regional Jatimbalinus mencapai 46 ribu lebih.
“Tersebar antara lain 36 ribu lebih pangkalan di Jawa Timur, 5 ribu lebih pangkalan di Bali dan 4 ribu lebih pangkalan di Nusa Tenggara Barat,” terang Ahad. (mas/hn)
Editor : Muhammad Fahmi