PROBOLINGGO, Radar Bromo–Pemerintah Kota (Pemkot) Probolinggo terus mengembangkan potensi buah Mangga sebagai produk unggulan sekaligus ikon di Kota Bayuangga ini.
Minggo sore (8/12), untuk kali pertama, Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan (DKPPP) setempat sukses menggelar “Probolinggo Pesta Mangga 2024.”
Gunungan buah Mangga dari berbagai jenis diarak dengan iringan kesenian musik Dug-dug, tarian Jaran Bodhag dan patung Karapan Sapi.
Parade gunungan mangga dan kesenian daerah Kota Probolinggo ini berangkat dari Rumah Dinas Penjabat Wali Kota Probolinggo menuju depan Kantor Pemkot Probolinggo. Dengan menggunakan baju adat, pawai dipimpin oleh Pj. Wali Kota Probolinggo M Taufik Kurniawan.
Segenap anggota Forkopimda atau yang mewakili juga hadir, termasuk ketua DPRD Kota Probolinggo Dwi Laksmi Syntha Kusumawardhani, serta Sekda Kota Ninik Ira Wibawati.
Turut mendampingi, para asisten dan staf ahli Wali Kota, hingga kepala Perangkat Daerah (PD) dilingkungan Pemkot Probolinggo.
Gunungan mangga ini sendiri merupakan simbol kekayaan hasil bumi Kota Probolinggo sebagai kota Mangga.
Gelaran ini merupakan wujud syukur Pemkot Probolinggo. Sebab sepanjang tahun 2024, tercatat produksi mangga di Kota Probolinggo mencapai 10.877 kwintal. Luar Biasa.
Total ada 3 gunungan mangga yang disiapkan dalam “Probolinggo Pesta Mangga 2024”.
Setiap gunungan berisi berbagai jenis mangga yang tersusun rapi. Baik mangga dari Probolinggo maupun dari luar Probolinggo.
Diantaranya, jenis Harum Manis, Manalagi, Kweni, Mahatir, Janis, Brazil, Apel, Ungu, Parkit dan Kopyor.
Sementara itu, di depan Kantor Pemkot, telah berjajar tenda untuk memamerkan berbagai macam varietas Mangga sekaligus sebagai icipan secara gratis. Dan memang, varietas Mangga Kota Probolinggolah yang memiliki ciri khas manis, legit, dan harum.
Siapa sangka, “Probolinggo Pesta Mangga” benar-benar mengundang antusias masyarakat.
Setibanya arak-arakan sampai di depan Kantor Pemkot, rupanya banyak masyarakat yang sudah menunggu dan bersiap menyerbu.
Benar saja, bahkan seremonial acara “Probolinggo Pesta Mangga” belum usai, 3 gunungan mangga setinggi 2,7 meter dan berkranjang-kranjang mangga sekitar hampir 4 ton ludes diserbu masyarakat dalam hitungan menit.
“Ini salah satu upaya kami untuk mengembalikan eksistensi Kota Probolinggo sebagai kota penghasil Mangga terbaik di Indonesia. Melalui kegiatan ini, kami ingin memopulerkan lagi, memaksimalkan lagi, harapannya masyarakat yang memiliki lahan bisa menanam pohon Mangga,” ungkap Pj. Wali Kota saat ditemui Jawa Pos Radar Bromo.
Sebab menurutnya, dengan memaksimalkan produksi buah Mangga bisa membuat kota Probolinggo jauh lebih maju lagi.
“Melihat begitu antusiasnya masyarakat dalam: Probolinggo Pesta Mangga, ini menunjukkan bahwa masyarakat Kota Probolinggo disini gemar makan buah, selalu hidup sehat,” jelas Taufik.
“Kegiatan ini juga mencerminkan bahwa kolaborasi antara semua pihak berjalan dengan baik. Antara unsur pertanian, seni budaya, pemerintah dan masyarakat bisa berjalan beriringan berkolaborasi bersama,” lanjut Pj. M.Taufik.
Kepala DKPPP Aries Santoso pun menyebut, enak tidaknya rasa mangga ternyata dipengaruhi oleh struktur tanah.
“Pernah kami melakukan percobaan dengan bibit mangga yang sama ditanam di wilayah Kota Probolinggo dan daerah lain, hasilnya lebih enak mangga ditanam di lahan atau pekarangan Kota Probolinggo. Itulah mengapa, pedagang mangga itu kalau ambil di pekarangan rumah warga, harga mangganya lebih mahal,” jelas Aries.
Selain pawai arak-arakan gunungan mangga dan pesta makan mangga gratis, rangkaian “Probolinggo Pesta Mangga” diawali dengan Pelatihan Pasca Panen Mangga. Pelatihan digelar di Aula TP PKK Kota Probolionggo pada Minggu siang (08/12).
Pelatihan itu menghadirkan pengawas mutu hasil pertanian, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Situbondo, Desi Komalasari, SST sebagai narasumber.
Momen istimewa ini pun menjadi ajang silaturahmi. Sebab para pejabat dari daerah tetangga juga hadir menyaksikan meriahnya “Probolinggo Pesta Mangga 2024”.
Diantaranya dari Kabupaten Probolinggo, kabupaten dan kota Pasuruan, kabupaten Lumajang, serta Kabupaten Situbondo. Begitu juga anggota kelompok tani, gabungan kelompok tani se-Kota Probolinggo dan beberapa stakeholder bidang pertanian. (adv/el)
Editor : Muhammad Fahmi