PROBOLINGGO, Radar Bromo-Ratusan anak-anak hebat di Kota Probolinggo memenuhi gedung Paseban Sena Kota Probolinggo, Senin (11/11). Mereka mengikuti rangkaian acara Anugerah Inklusif III dengan tema “Aku Anak Hebat” bersama orang tua dan para guru.
Ajang yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Probolinggo bekerjasama dengan Jawa Pos Radar Bromo itu diikuti 153 peserta dari 26 lembaga inklusi se Kota Probolinggo.
Kepala Disdikbud Kota Probolinggo, Siti Romlah menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam menyediakan layanan pendidikan yang bermutu, tanpa batasan atau diskriminasi.
Juga sebagai bentuk apresiasi atas semangat luar biasa dari anak-anak hebat dalam belajar dan mengembangkan diri.
“Acara ini mengangkat tema inklusivitas dan menegaskan bahwa semua anak, terlepas dari perbedaan karakteristik, kompetensi, dan kebutuhan mereka, memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Mereka semua memiliki kompetensi yang layak diapresiasi,” terang Romlah.
Pada acara itu, apresiasi juga diberikan kepada para orangtua dan guru pendamping khusus (GPK).
Sebab, mereka secara sabar, tulus, dan ikhlas mendampingi anak-anak tersebut dalam proses pendidikan.
Kabid Pembinaan PAUD dan Pendidikan Non Formal (PNF) Disdikbud Kota Probolinggo, Heri Wijayani saat membuka acara menegaskan, ada lima challenge yang digelar khusus untuk peserta.
Tujuannya untuk menstimulasi motorik kasar dan halus, fisik motorik anak, hingga aspek keimanan.
“Inilah salah satu alasan mengapa perlu dilaksaksanakan Anugerah Inklusif III. Pada intinya anak-anak kita adalah anak-anak hebat yang memiliki keistimewaan dan tidak dimiliki semua anak. Selain anaknya yang hebat, ada orangtua dan guru yang hebat,” ungkapnya.
Setelah acara dibuka, kegiatan dilanjutkan dengan "challenge festival" yang berupa lomba-lomba untuk anak.
Ada lima jenis lomba yang digelar dalam waktu bersamaan. Yakni berjalan di atas papan titian, memasang kancing baju, menyusun empat keping puzzle, memakai kaus kaki, dan meniup bola di atas gelas.
“Dalam setiap kategori, diambil tiga peserta terbaik untuk TK dan KB. Mereka dinilai oleh masing-masing tiga juri dengan kriteria didasarkan pada kecepatan, ketepatan, kerapian, kemandirian, dan keberanian anak,” ujar Heri.
Canda tawa ramai terdengar dari tiap sudut ruangan lokasi challenge. Baik dari anak-anak yang menyelesaikan tantangan. Juga dari para guru dan orang tua yang memotivasi mereka.
Siang sekitar pukul 13.30, acara challenge itu juga dihadiri sejumlah pejabat Pemkot Probolinggo.
Mulai Staf Ahli Pembangunan Ekonomi dan Keuangan Slamet Swantoro; Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Rey Suwigtyo dan sejumlah kepala OPD. Juga hadir tim Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, serta sejumlah camat dan lurah se Kota Probolinggo.
Puncaknya, para sore harinya digelar penganugerahan yang dibuka dengan tampilan nyanyian, chicken dance, dan salawat dari para peserta didik inklusi.
Baru kemudian diumumkan para pemenang challenge dan penyerahan hadian pada tiga peserta terbaik di setiap challange dan tingkatan.
Keseruan kegiatan ini mendapat komentar positif dari guru, maupun wali murid yang datang.
Ira Puspitasari, salah satu guru SPS Inklusi Permata mengatakan, kegiatan ini sangat bermanfaat bagi anak-anak hebat. Sehingga mereka dapat mengembangkan bakat dan minatnya.
“Ke depannya semoga diadakan lagi untuk tahun-tahun berikutnya. Tentunya dengan variasi lomba yang berbeda dan lebih seru lagi,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Intan, salah satu wali murid dari Taman Indria I. Menurutnya, kegiatan itu sangat bermanfaat untuk mengembangkan minat dan bakat anak-anak hebat di Kota Probolinggo.
“Tadi anak saya ikut merangkai keping puzzle. Acara ini seru, namun juga menantang. Sebab, harus menjaga mood dan kepercayaan diri anak,” katanya. (gus/hn)
Editor : Muhammad Fahmi