PEMERINTAH Desa Kedungsari, Kecamatan Maron, Kabupaten Probolinggo, masih fokus terhadap pembangunan dan peningkatan kualitas infrastruktur.
Namun, tak melupakan sektor lainnya. Seperti bidang kesehatan.
Mayoritas wilayah Desa Kedungsari memiliki lahan pertanian produktif. Tidak heran jika banyak warga setempat yang menggantungkan perekonomiannya dari sektor pertanian.
Kondisi ini menjadi perhatian serius pemerintah desa setempat. Salah satunya dengan melakukan pembangunan dan peningkatan kualitas infrastruktur sektor pertanian.
“Masih banyak lahan pertanian produktif di Desa Kedungsari. (Irigasi) perlu kami bangun karena memang dibutuhkan untuk sektor pertanian,” ujar Kepala Desa Kedungsari Mahfud.
Pemerintah desa telah merealisasikan pembangunan irigasi sepanjang 110 meter di RT 3/RW 4, Dusun Krajan.
Wilayah ini memiliki wilayah lahan pertanian cukup luas. Terdapat 17 hektare lahan pertanian yang dapat dijangkau oleh saluran irigasi ini.
Dengan komoditas unggulan padi, jagung, tebu, dan tembakau.
Pemerintah desa membangun irigasi karena infrastruktur ini begitu dibutuhkan untuk mendongkrak hasil pertanian. Baiknya kondisi irigasi memengaruhi kualitas dan kuantitas hasil pertanian.
Mahfud menambahkan, bahwa sebenarnya ada beberapa irigasi yang perlu dibangun.
Namun, karena anggaran yang dimiliki pemerintah desa cukup terbatas, maka belum bisa dibangun sekaligus.
Meski demikian, pemerintah desa tetap berkomitmen pembangunan infrastruktur akan terus dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan.
Nanti tidak hanya irigasi, jalan usaha tani dan sarana prasarana lain yang dibutuhkan petani akan dipenuhi.
Dengan demikian, perlahan kesejahteraan masyarakat desa dapat terkatrol. Sektor pertanian juga semakin berkembang.
“Sebelumnya, irigasi berupa tanah. Saat debit air meningkat akan mengikis irigasi. Jika tidak dibangun, kondisi irigasi yang berada di pinggir jalan ini dalam jangka panjang akan jebol. Mengantisipasi itulah, perlu ada pembangunan dengan konstruksi yang lebih kuat,” jelasnya.
Perhatikan Tumbuh Kembang Balita
Pemerintah Desa Kedungsari begitu intens memperhatikan tumbuh kembang balita.
Karena mereka begitu rentan, sehingga perlu adanya peran serta pemerintah desa dalam menjaga kesehatannya. Salah satunya dengan memenuhi gizi hariannya.
Gizi yang tidak terpenuhi dengan baik, akan menyebabkan anak stunting.
Dalam jangka panjang, dampak stunting akan menyebabkan anak kesulitan belajar, penyakit jantung, dan pembuluh darah. Karenanya, pemenuhan gizi sangat diperlukan.
“Melalui Posyandu, kami galakkan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) pada balita," ujar Kepala Desa Kedungsari Mahfud.
Pemerintah desa melaksanakan PMT melalui posyandu yang telah tersebar di seluruh dusun di Desa Kedungsari.
Dilakukan secara bergantian dan merata di enam posyandu. Meliputi Posyandu Srudin, 95 balita; Masjid, 50 balita; Kramat, 65 balita; Krajan, 30 balita; Lebbe, 35 balita; dan Gudang, 30 balita.
Dalam pelaksanaannya, bidan dan kader posyandu menyiapkan menu PMT yang bervariasi. Mulai dari lauk dan makanan, cemilan, hingga buah-buahan.
Menu yang disiapkan telah dihitung kadar gizinya, sehingga memenuhi kebutuhan gizi harian balita.
“Juga ada pemberian vitamin dan imunisasi pada balita. Pemerintah desa mengontrol langsung pelaksanaan posyandu. Agar kegiatan dan penyaluran PMT benar-benar berjalan baik. Harapannya, potensi stunting di desa bisa ditekan," ujarnya. (ar/rud)
Editor : Jawanto Arifin