PEMKAB Probolinggo terus berusaha memastikan ketersediaan pupuk bersubsidi aman. Selasa (20/8), Pemkab melakukan inspeksi mendadak (sidak) di dua desa di Kecamatan Wonomerto. Yakni, Desa Sepuhgembol dan Desa Sumberkare.
Sidak bertujuan memastikan penyaluran pupuk bersubsidi berjalan tepat sasaran. Serta, memeriksa kesesuaian harga eceran tertinggi (HET) di setiap kios.
Inspeksi ini melibatkan Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida (KP3) Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perdagangan, dan Perindustrian (DKUPP); Dinas Ketahanan Pangan; Polres Probolinggo Kota; dan Kejaksaan Negeri Kraksaan.
Kabid Perdagangan DKUPP Kabupaten Probolinggo Mehdinsareza Wiriarsa menjelaskan, alokasi pupuk di Desa Sumberkare mencapai 400 ton per tahun. Menjadikan desa ini dengan alokasi terbesar di Kecamatan Wonomerto karena area tanamnya juga luas. “Sementara, di Desa Sepuhgembol, alokasi pupuk bersubsidi hanya 30 ton per tahun,” katanya.
Di Kabupaten Probolinggo, ada dua jenis pupuk subsidi yang disalurkan. Urea dan NPK Phonska. Berdasarkan Keputusan Menteri Republik Indonesia Nomor 249/KPTS/SR.32/M/04/2024, HET pupuk Urea ditetapkan Rp 2.250 per kilogram dan Rp 2.300 per kilogram untuk NPK Phonska.
Salah satu pemilik kios pupuk bersubsidi di Desa Sumberkare, Nur Hasan, 44, mengonfirmasi stok pupuk di Desa Sumberkare selalu tersedia. Ia mengaku melayani 8 kelompok tani dari Desa Sumberkare.
“Harga yang kami tetapkan sesuai HET, Rp 112.5000 per sak untuk pupuk Urea ukuran 50 kilogram dan Rp 115.000 per sak untuk pupuk NPK Phonska,” jelasnya.
Plt Asisten 2 Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Kabupaten Probolinggo Saniwar mengatakan, hasil sidak di dua titik menunjukkan stok pupuk bersubsidi masih aman. Harga jualnya juga sesuai aturan.
“Kami juga mengimbau para penjual untuk memasang informasi terkait pupuk subsidi di tempat yang strategis. Agar informasi ini dapat diakses masyarakat luas. Kami juga memperingatkan para pedagang agar tidak melanggar aturan. Sebab, konsekuensinya bisa berupa pencabutan izin atau bahkan sanksi pidana,” ujarnya. (gus/adv)
Editor : Ronald Fernando