DRINGU, Radar Bromo - Masalah plasi atau potongan timbangan bawang merah di Kabupaten Probolinggo, belum juga klir.
Sejumlah petani masih harus mengeluh karena potongannya cukup tinggi. Mencapai 32 kilogram per 2 kuintal.
Sebelumnya, Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perdagangan, dan Perindustrian (DKUPP) Kabupaten Probolinggo telah melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Pasar Bawang Dringu.
Hasilnya, DKUPP mengklaim plasi bawang sudah turun.
Salah seorang petani bawang merah asal Desa Sekarkare, Kecamatan Dringu, Solihin, 49, mengatakan, meski DKUPP telah melakukan penegakan masalah plasi, namun di lapangan tidak ada hasilnya.
“Kami sudah rugi dengan hama yang menyerang tanaman bawang merah, ditambah plasi yang tetap tinggi,” ujarnya.
Tidak berubahnya plasi ini, membuat Solihin curiga ada main antara tim DKUPP yang turun ke lapangan dengan pedagang.
Ia menduga, pedagang telah memberikan informasi palsu kepada tim lapangan DKUPP. Karena sampai Senin (12/8), plasi bawang merah masih tetap 32 kilogram per 2 kuintal.
Pernyataan senada disampaikan petani bawang merah asal Desa Sumberagung, Kecamatan Dringu, Budiono, 40. Menurutnya, potongan timbangan bawang merah di Pasar Bawang Dringu, masih 32 kilogram per 2 kuintal.
Itu pun khusus bawang merah bagus. Bila kotor, bisa mencapai 35 kilogram per 2 kuintal.
Besarnya plasi ini, kata Budiono, semakin membuat sejumlah petani gundah. Karena kini banyak tanaman bawang yang terserang hama gurem atau yang mereka sebut man koman.
Dengan potongan 32 sampai 35 kilogram, makin membuat petani rugi.
“Bawang sudah diserang hama, ditambah plasi yang masih tinggi. Yang diuntungkan pedagang, sedangkan kami para petani rugi," katanya.
Namun, pernyataan sejumlah petani ini dibantah oleh Kepala DKUPP Kabupaten Probolinggo Taufik Alami. Senin (12/8), menurutnya plasi bawang merah sudah turun menjadi 12 persen.
“Plasi sudah turun. Yang asalnya 20 persen, setelah kami imbau turun 16 persen. Hari ini sudah 12 persen. Terkait adanya dugaan ada permainan itu, kalau DKUPP tidak turun langsung ke petani. Namun, jika demikian, terima kasih infonya," ujarnya. (mg2/rud)
Editor : Jawanto Arifin