MAYANGAN, Radar Bromo- Jumlah penderita HIV/AIDS di Kota Probolinggo meningkat. Pada 2023, tercatat ada 109 pasien baru.
Jumlah ini naik 14,7 persen dibanding 2022. Saat itu, terdata 95 pasien HIV/AIDS.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes & P2KB Kota Probolinggo drg Asri Wahyuningsih menyebutkan, pasien baru bukan hanya berasal dari Kota Probolinggo.
Ada juga dari daerah lain yang kebetulan terskrining di Kota Probolinggo.
Pada 2022, terdapat 95 pasien baru penderita HIV. Tiga di antaranya telah terkonfirmasi menderita AIDS.
“AIDS ini adalah HIV positif yang sudah masuk stadium 3 ataupun 4,” katanya.
Pada 2023, datanya meningkat 14,7 persen. Terdapat 109 pasien baru yang terskrining di Kota Probolinggo, sebagai penderita HIV positif. Tujuh di antaranya didiagnosis menderita AIDS.
Dari data tersebut, terdapat 67 orang penderita yang mulai berobat tahun ini. Bila diakumulasikan dari tahun-tahun sebelumnya hingga 2023 telah ada 187 orang yang berobat.
Asri mengatakan, angka penderita baru setiap tahunnya memang fluktuatif. Tergantung kondisi imun tubuh masing-masing.
“Kalau kondisi imunnya bagus, biasanya tak sampai ke arah AIDS. Atau, bisa diobati lebih dini, biasanya juga tak sampai ke AIDS. Memang penyakit ini menyerang sistem imun,” katanya.
Sementara untuk kendala penangannya, Asri mengatakan, salah satunya terkadang penderita tak mau langsung berobat. Menunggu satu hingga dua bulan setelah skrining.
“Ada juga yang tidak mau diketahui identitasnya. Jadi, ketika memberi identitas seperti alamat domisili dan nomor kontak, setelah dihubungi tidak aktif. Dikunjungi ke rumahnya, ternyata alamatnya palsu. Meski beberapa ada juga yang kooperatif,” katanya.
Asri mengaku juga menyediakan layanan dengan petugas khusus berupa manajer kasus (MK). Mereka bertugas mendapingi secara private penderita HIV/AIDS.
Di Kota Probolinggo, ada 6 orang MK. “Penderita bisa request, mungkin lebih nyaman bila didampingin MK. Mereka akan mendampingi pasien,” katanya. (gus/rud)
Editor : Ronald Fernando