Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Layangan Naga yang Digemari Anak-Anak hingga Dewasa

Arif Mashudi • Minggu, 22 Oktober 2023 | 23:15 WIB
SIAP DITERBANGKAN: Novem (kiri) bersama Rudi Hariyanto, siap menerbangkan layangan naga di Kelurahan Sumbertaman, Kota Probolinggo.
SIAP DITERBANGKAN: Novem (kiri) bersama Rudi Hariyanto, siap menerbangkan layangan naga di Kelurahan Sumbertaman, Kota Probolinggo.

LAYANG-layang atau layangan menjadi “mainan” lintas generasi. Tak hanya anak-anak, peminatnya juga merambah kalangan dewasa. Bentuknya pun makin beragam. Salah satunya menyerupai naga.

Awalnya layang-layang dikenal kali pertama ditemukan di Cina. Hingga 1997, Cina dikenal sebagai negara penemu layang-layang pertama di dunia. Diperkirakan sudah ada di Cina sejak 2800. Terbuat dari kain sutra dan bambu emas sebagai kerangkanya.

Namun, sejarawan bernama Clive Hart dan Tal Streeter, percaya bahwa klaim Cina tidak sah. Mereka menyakini layang-layang ada jauh lama sebelum Cina mengklaimnya. Sejarawan percaya, bahwa layang-layang pertama di dunia dibuat di ujung tenggara di Pulau Sulawesi. Yakni, di Gua Sugi Patani, Desa Liang Kabori, Pulau Muna.

Sebagaimana dilansir sejumlah website, sejumlah ahli menemukan sebuah lukisan di Pulau Muna yang diperkirakan berumur 40 ribu tahun. Lukisan itu berada di gua bersejarah. Menyerupai manusia yang sedang menerbangkan layang-layang.

Penjaga gua menemukannya pada 1996. Kemudian diteliti oleh seseorang dari Jerman bernama Wolfgang Bieck. Pecinta layangan ini danga ke Indonesia pada 1997. Wolfgang membawa sang istri Mong Hie ke Indonesia, untuk melihat lukisan itu.

Photo
Photo
Photo
Photo
Photo
Photo

Lukisan itu memperlihatkan figur manusia berdiri dengan postur dinamis dengan memegangi layang-layang daun. Setelah diteliti, ternyata lukisan ini telah ada sejak era Epi-peleolitik (periode Mesolitikum) atau sekitar 9.000-9.500 sebelum masehi.

Wolfgang kemudian mendeklerasikan, bahwa layang-layang pertama yang pernah diterbangkan manusia adalah layang-layang di Pulau Muna, Sulawesi. Kemudian, ia membuat artikel berjudul “The First Kiteman” di sebuah majalah di Jerman pada 2003.

Kini, bentuk layang-layang terus berkembang. Salah satunya berbentuk ular naga. Seperti banyak digemari warga Kelurahan Sumbertaman, Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo. Sejumah remaja, bahkan orang dewasa hobi membuat dan menerbangkan layangan naga.

Dari sejumlah pehobi, salah satunya Ages Pranata, 26. Ia mengaku menekuni hobi membuat layangan naga sejak beberapa tahun terakhir. Tepatnya, pada awal-awal terjadinya Pandemi Covid-19 pada 2020.

Menurutnya, di lingkungan rumahnya banyak yang hobi membuat layangan suwangan atau layangan berukuran besar lainnya. Termasuk dirinya. Sejak kecil, Ages sudah terbiasa bersama orang tuanya membuat layangan suwangan.

Kala itu, pada masa pandemi korona, Ages mengaku banyak menganggur. Sepi pekerjaan. Karena itu, bersama sejumlah temannya berpikir apa yang harus dikerjakan untuk mengisi waktu luang.

Tanpa sengaja, ia melihat sejumlah pemuda bermain layangan naga. Bentuknya yang penuh seni, membuatnya tertarik untuk belajar membuatnya. Karena itu, rajin berselancar di dunia maya. Termasuk menonton video di media sosial untuk menimba ilmu.

Dengan kemampuan terbiasa membuat layangan suwangan, awalnya ia berpikir mudah membuat layangan naga. Ternyata, kata Ages, jauh lebih sulit membuat layangan naga. Proses pembuatannya panjang. Butuh kejelian. Biaya yang harus dikeluarkan juga tak sedikit.

“Saya awal-awal membuat layangan naga, sekitar 5 kali gagal. Layangan naga yang sudah dibuat saat diterbangkan ekornya tidak lulus ke belakang. Layangan naga yang bagus itu, ketika diterbangkan, ekornya lurus tegak ke atas,” jelasnya.

Pria kelahiran Probolinggo, 3 Agustus 1997 ini mengaku, tidak seorang diri membuat layangan naga. Kebetulan di lingkungannya banyak pemuda hingga bapak-bapak yang suka seni. Sehingga, dirinya biasa membuat layangan bersama mereka.

“Tapi, khusus mengikat tali ekornya, setiap kepingan ekornya harus satu orang. Karena, harus sama ukuran panjang dan cara ikat setiap kepingan ekornya,” ujarnya.

Setiap membuat layangan naga butuh kesabaran. Waktunya juga tak sebentar. Bisa sampai tiga bulan. Bahkan, untuk membuat bagian kepala saja, butuh waktu sekitar satu bulan. Namun, kini Ages bisa mengerjakannya dalam dua minggu.

“Ukuran kepala layangan naga menyesuaikan ukuran lingkaran ekor. Kalau kepingannya lebar 40 sentimeter, kepala layangan naga besarnya bisa 35 sentimeter,” jelasnya.

Proses pembuatan ekorannya juga butuh waktu sebulan lebih. Dengan panjang sekitar 100 meter, butuh ratusan kepingan ekor. Membuat satu keping ekor, prosesnya panjang. “Saya biasanya membuatnya ketika malam. Ngisi waktu malam bareng teman-teman dengan membuat layangan naga,” ujarnya.

Soal biaya, kata Ages, tergantung bahan. Paling murah sekitar Rp 2 juta. Namun, bila menggunakan bahan berkualitas bagus, biayanya bisa mencapai Rp 5 juta.

“Biaya bahan paling mahal itu kain layangan, terus tali (ronce) untuk mengikat setiap kepingan ekornya. Dengan senang, biaya habis banyak, ya gak kepikir wes,” ungkapnya.

 

Bentuk Komunitas, Jadi Media Silaturahmi

Banyaknya pecinta layangan naga di Kota Probolinggo, akhirnya terbentuk komunitas. Anggotanya 35 orang. Biasanya, mereka berkumpul di Pelabuhan Perikanan Pantai Mayangan, setiap Minggu sore. Namun, tergantung waktu longgar pecinta layangan naga dan cuaca.

Awalnya, pecinta layangan naga ini datang ke pelabuhan hanya membawa satu layangan naga biasa. Seiring waktu berjalan, ternyata yang suka layangan naga bertambah. Termasuk karya layangan naga buatannya. “Sekarang kadang bawa tiga layangan naga dan saling pamer seni layangan masing-masing,” ujar Ages Pranata.

Ages mengaku memiliki cukup banyak layangan naga. Namun, yang masuk kategori bagus dan siap diterbangkan kapan saja, hanya tiga layangan. Semuanya simpan baik-baik dan biasa dibawa ketika bertemu komunitasnya.

“Saya lihat anak yang suka layangan naga hampir semuanya punya lebih tiga layangan naga. Bagus-bagus semua, bukan polosan,” teranngya.

Ketua Komunitas Layangan Naga Probolinggo Rebudi mengatakan, layangan naga disukai, karena berbeda dengan layangan lainnya. Selain dengan ekor yang panjang sampai 100 meter lebih, kepala naga ukurannya besar, beratnya bisa mencapai 10 kilogram.

“Jadi memiliki keunikan dan seni tersendiri layangan naga ini. Di gang rumah ini ada beberapa warga yang punya layangan naga,” ujar warga Kelurahan Sumbertaman, Kecamatan Wonoasih ini.

Rebudi mengatakan, melalui komunitas ini, para pesertanya bisa silaturahmi dan saling sharing. Berbagi pengalaman dan meningkatkan pengetahun. Terutama tentang layangan naga. Ia berharap banyaknya layangan naga di Kota Probolinggo, dapat menjadi hiburan baru bagi masyarakat.

“Kalau ada lomba, biasaya saya dan teman-teman ikut. Hanya saja di Probolinggo lomba layangan naga masih jarang. Pernah diadakan sekali di Pantai Permata Kota Probolinggo,” katanya. (mas/rud)

Editor : Jawanto Arifin
#layang-layang hias #layang-layang #layang-layang naga