KANIGARAN, Radar Bromo - Kemacetan Jalan Supriyadi di belakang pabrik PT Eratex Djaja Kota Probolinggo, tak kunjung terpecahkan. Bahkan, semakin parah karena banyak motor karyawan Eratex yang diparkir di badan jalan. Kemacetan panjang itu pun sempat viral di medsos.
Pantauan Jawa Pos Radar Bromo menyebutkan, penyebab kemacetan itu cukup kompleks. Tidak hanya banyak PKL yang berjualan di tepi jalan. Juga karena motor diparkir di belakang pabrik, di sepanjang jalan supriadi. Jalan yang sudah sempit akhirnya semakin sempit. Selain itu, banyaknya karyawan Eratex saat jam masuk dan pulang kerja, semakin memperparah kemacetan.
Dalam video yang viral di medsos tersebut, kendaraan dari timur dan barat macet total. Sebab, ada kendaraan roda empat dari kedua arah yang tengah melintas. Sementara, di tepi jalan jalan sisi utara, banyak motor parkir. Sehingga, tidak cukup untuk dua mobil berpapasan.
”Yo opo parkir ngene iki, Lur. Parkir ngene sampai macet yo opo, Lur. Yo opo parkir iki sampek ngene iki. Seng ngatur wedok, seng ngatur (Gimana parkir seperti ini, Lur. Parkir seperti ini sampai macet, gimana, Lur. Gimana parkir ini sampai seperti ini. Yang mengatur perempun),” ungkap netizen dengan akun Elvanno Putra Nanda di medsos.
Taufik, 45, warga Kelurahan Sukoharjo, Kecamatan Kanigaran, mengaku kerap melintasi di Jalan Supriyadi saat berangkat kerja. Karena jalur itu paling dekat. Sayangnya, jalur itu kerap macet. Apalagi saat banyak motor karyawan Eratex yang parkir di pinggir jalan. Dia berharap, pemerintah maupun Eratex bisa menyiapkan tempat parkir karyawan yang layak.
”Harusnya jalan ini dibebaskan dari parkir motor. Jadi tidak sampai macet. Apalagi saat ada kendaraan roda empat melintas dan barengan dengan jam pulang karyawan, pasti macet,” ungkapnya.
Jawa Pos Radar Bromo pun mengonfirmasi masalah parkir di belakang pabrik Eratex tersebut. Hanya saja, Sahri dari Management PT Eratex Djaja Probolinggo belum dapat dikonfirmasi. Saat dihubungi via telepon, sempat direspons dan menyebutkan tengah rapat. ”Saya sedang rapat,” ujarnya singkat. (mas/hn)
Editor : Ronald Fernando