Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Merugi karena Angin Gending, Nelayan Tak Melaut

Inneke Agustin • Sabtu, 8 Juli 2023 | 18:00 WIB
SANDAR: Kapal nelayan bersandar di Pelabuhan Tanjung Tembaga, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, Jumat (7/7). Nelayan lebih memilih untuk memperbaiki kapal selama angin Gending.
SANDAR: Kapal nelayan bersandar di Pelabuhan Tanjung Tembaga, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, Jumat (7/7). Nelayan lebih memilih untuk memperbaiki kapal selama angin Gending.

MAYANGAN, Radar Bromo - Angin gending yang tengah berembus di Probolinggo, membuat nelayan di Kota Probolinggo tidak melaut.

Sebab, saat melaut pun, tangkapan ikan hanya sedikit. Penghasilan mereka pun menurun. Sementara pemilik kapal mengaku merugi.

Seperti yang disampaikan Fauzi, 50, nakhoda KM Mandala Putra. Menurutnya, saat ini banyak kapal tidak melaut karena angin gending yang begitu kencang. Termasuk kapal yang dinakhodainya.

Kondisi itu membuat penghasilan nelayan jauh menurun. Saat kondisi normal, kapal berlayar 2 hari sekali atau 4 hari sekali ke selat Madura.

Selama berlayar itu, kapal bisa mendapat 3–4 ton ikan. Namun, karena angin gending, tangkapan nelayan jadi jauh berkurang. Dapat 1 ton saja sudah untung.

“Kalau ke selat Madura itu, modal berangkat sekitar Rp 7 juta sampai Rp 10 juta. Karena angin gending, tangkapan jadi sedikit. Penjualan hanya dapat Rp 3 juta sampai Rp 5 juta dari hasil tangkapan. Jadi rugi setengahnya,” terang Fauzi.

H. Romli, 52, pemilik KM Sumber Hidup menjelaskan hal serupa. Dalam kondisi normal, kapalnya biasa berlayar ke selat Madura dengan hasil tangkapan ikan 3–4 ton.

Namun, saat angin gending jumlah tangkapan menurun walau jangkauannya sama.

“Sekarang (saat angin gending, Red), harus berlayar lebih jauh bila ingin tangkapan ikan lebih banyak. Biasanya ke Kangean, Masalembu, Pasuruan, Situbondo.

Tapi, otomatis butuh modal lebih banyak. Sekali berangkat bisa hingga Rp 20 jutaan,” ujar Romli.

Karena kondisi itu, Romli maupun Fauzi memilih tidak melaut. Sebab, saat melaut mereka justru merugi.

Saat ini, para nelayan dan pemilik kapal memilih untuk mengisi waktu dengan memperbaiki kapal.

Kondisi ini diperkirakan berlangsung selama beberapa bulan ke depan. Sebab, angin gending, menurut Romli, biasanya terjadi hingga bulan September, bahkan Oktober.

Sementara itu, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas IV Probolinggo belum pernah mengeluarkan imbauan larangan melaut selama angin gending. Sebab, angin gending terjadi di tingkat lokal saja.

“Sementara ini pemberitahuan cuaca terkait angin kepada nelayan lokal belum ada. Utamanya mengenai angin gending. Sebab, angin gending merupakan angin lokal. Nelayan kota jauh lebih paham mengenai angin ini,” terang Prabowo Hendro Kisworo, 42, petugas Keselamatan Berlayar, Penjagaan, dan Patroli.

Pihaknya, menurut Prabowo, biasanya lebih berfokus pada kapal-kapal besar. Seperti kapal kargo yang akan berlayar keluar pulau.

Sedangkan acuan info cuaca termasuk angin yang digunakan berasal dari Maritim BMKG.

Berdasarkan prediksi BMKG, menurutnya, saat ini tinggi gelombang di perairan Kota Probolinggo berkisar 0,1–0,5 m. Masih normal dibandingkan daerah pantai selatan seperti Puger, Jember.

“Sementara kecepatan angin memang lumayan tinggi. Mungkin pengaruh angin gending. Sekitar 3–20 knot dari arah timur ke tenggara,” jelas Prabowo.

Biasanya, menurut dia, maklumat pelayaran baru dikeluarkan bila ada cuaca ekstrem. Kemungkinan ini akan terjadi di akhir Desember hingga awal Januari.

“Pemberitahuan ini kami sebarkan ke kantor perikanan, HNSI (Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia), atau asosiasi-asosiasi nelayan,” tuturnya. (mg/hn)

Editor : Jawanto Arifin
#angin gending #nelayan probolinggo