Sekitar setahun lalu jalan utama Dusun Puncaksari memang longsor. Tepatnya, Selasa (4/10) tahun 2022. Akibatnya, TPT ambles. Sehingga jalan sepanjang sekitar 40 meter turut ambles.
Kades Sapih Ngatiman menerangkan, pemdes tidak bisa melakukan apa-apa untuk memperbaiki jalan yang longsor. Sebab, alokasi dana desa yang ada sangat terbatas.
Karena itu, pemdes lantas mengajukan surat dan proposal bantuan perbaikan kepada Dinas PUPR Kabupaten Probolinggo. Sayangnya, hingga Senin (22/5) tidak ada kabar dari pihak dinas. Apakah bantuan itu disetujui atau tidak. Termasuk kapan perbaikan jalan yang longsor dilakukan.
Karena dinilai terlalu lama, akhirnya warga sekitar pun melakukan swadaya. Mereka gotong royong memperbaiki jalan yang longsor sepekan lalu. Harapannya, jalan itu bisa kembali dilalui kendaraan roda empat. Sebab, setelah longsor jalan utama menjadi sempit. Hanya kendaraan roda dua yang bisa lewat.
“Jadi saat longsor, jalan utama tidak bisa dilalui. Kemudian warga berinisiatif memasang papan agar bisa dilalui kendaraan. Dan memang bisa. Tapi, hanya bisa dilalui kendaraan roda dua. Meskipun sedikit membahayakan dan tidak semua pengendara motor bisa melaluinya,” katanya.
Berjalan hampir setahun, warga kemudian memutuskan swadaya memperbaiki lagi jalan yang longsor agar bisa dilalui kendaraan roda empat. Warga menguruk bagian yang longsor dengan tanah. Lalu, memasang pasak dari batang pohon.
Perbaikan itu dilakukan dua hari. Sayangnya, upaya itu tidak berhasil. Pasak yang terbuat dari batang pohon tidak mampu menahan tanah urukan. Tetap ambles. Sehingga, kondisi jalan tetap miring.
“Perbaikan belum berhasil. Memang kami melakukan perbaikan dengan alat dan material seadanya,” kata Kades Ngatiman, Senin (22/5) siang.
Ngatiman pun berharap, tahun ini Pemkab Probolinggo bisa memperbaiki jalan yang rusak akibat longsor itu. Kalau bisa, jalan sudah diperbaiki sebelum musim hujan datang lagi.
“Saat ini bagian yang longsor sudah mepet ke teras rumah warga. Kalau dibiarkan terus sampai musim hujan, kami khawatir rumah warga akan longsor,” urainya.
Jawa Pos Radar Bromo berusaha mengonfirmasi Kepala Dinas PUPR Kabupaten Probolinggo Hengki Cahyo Saputra. Namun, hingga pukul 18.00 belum direspons.
Namun, sebelumnya pihak PUPR menerangkan bahwa alokasi anggaran yang dimiliki pemerintah terbatas. Sehingga, belum bisa memperbaiki seluruh jalan yang rusak di kabupaten. Perbaikan akan dilakukan secara bertahap. Dan pada tahun 2023 belum ada jadwal perbaikan jalan di Dusun Puncaksari, Desa Sapih.
Petani Keluhkan Biaya Transport Tinggi
Gagalnya perbaikan swadaya yang dilakukan warga Dusun Puncaksari, Desa Sapih, membuat warga makin kecewa. Khususnya para petani atau mereka yang memiliki lahan pertanian.
Sebab, longsor setahun lalu itu memang memutus jalan usaha tani di dusun setempat. Warga pun harus menambah biaya transportasi lebih mahal agar tetap bisa mengangkut hasil pertanian mereka.
Kades Sapih Ngatiman menerangkan, perbaikan swadaya yang dilakukan sepekan lalu itu memang bertujuan agar akses jalan kendaraan roda empat bisa tersambung kembali. Sayangnya, proses perbaikan gagal dilakukan.
Dengan demikian, warganya tetap harus membayar jasa angkut Rp 1,4 juta unutk mengangkut hasil tani mereka.
“Biasanya tidak sampai segitu. Biasanya dari Dusun Tersono, Lumbang ke Pasar Sukapura Rp 800 ribu. Karena terputus, maka warga harus memutar lewat Dusun Ngelosati, Desi Sapikerep. Ongkosan juga naik menjadi Rp 1,4 juta,” katanya.
Petani setempat pun berharap agar akses kendaraan roda empat tersambung kembali. Sehingga, mereka tidak perlu mengeluarkan biaya terlalu mahal.
“Diangkut pakai ojek sayur sih bisa. Tapi kan harus bolak-balik. Kalau ditotal pun sama pengeluarannya. Sementara harga sayur seperti kentang, bawang, kubis, tidak ada perubahan. Sesuai harga pasar,” terangnya.
Hal senada diungkapkan Kasnoyo, 38, warga setempat. Menurutnya, petani di Desa Sapih bukanlah petani yang memiliki ratusan hektare lahan. Mereka hanya memiliki sedikit lahan. Paling banter 1 hektare. Keuntungan mereka pun sedikit. Sebab, ongkos angkut di dataran tinggi memang lebih mahal.
“Jadi ongkosan jasa angkut di dataran tinggi itu lebih mahal. Sebab, harus menggunakan jasa angkut berupa ojek sayur. Ojek sayur itu mengangkut hasil tani dari ladang ke jalan. Biasanya harganya Rp 400 hingga Rp 600 per kilogram. Setelah sampai di tepi jalan, baru diangkut dengan roda empat ke pasar sayur,” tutupnya. (rpd/hn) Editor : Jawanto Arifin