Agar kelestarian bunga edelweis, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) bersama dengan Forkopimda dan forkopimca melakukan penanaman bibit. Penanamannya dilakukan Sabtu (20/5) siang di samping kantor TNBTS Cemorolawang, masuk Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura Kabupaten Probolinggo. Selain TNBTS, penanaman juga dilakukan Forkopimda, tokoh Tengger Semeru hingga masyarakat setempat.
Penyuluh Kehutanan Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger (BBTNBTS) Birama Terang Radityo mengatakan, bunga abadi ini diyakini terancam putus dari tanah Bromo karena sering diambil oleh masyarakat dan pengunjung. Adapun jenis edelweis di Bromo yakni Anaphalis javanica. Jenis ini keberadaanya mulai langka sehingga perlu dilestarikan.
Adapun tiga jenis edelweis yang tumbuh di hutan TNBTS sebenarnya ada banyak. Antara lain Anaphalis Javanica, Anaphalis Viscida dan Anaphalis Longifolia. Perawatanya tidak sulit. Yang terpenting tingkat ketinggianya minimal capai 1.500 mdpl.
“Jadi di daerah sini (Ngadisari Cemorolawang) yang paling cocok. Kami pernah mencoba di Desa Sukapura yang lebih rendah, namun pohonnya tidak berbunga,” tuturnya.
Dengan adanya dewa wisata edelwies untuk budidaya di Wonokitri, Tosari, Kabupaten Pasuruan, tidak hanya mendukung untuk acara budaya umat hindu. Namun juga meningkatkan ekonomi dengan cara diperjual belikan dengan tetap mempertahankan kelestariannya.
Selain sebagai bentuk kelestarian budaya asli suku Tengger dan sebagai destinasi wisata kebudayaan Indonesia, hingga saat ini edelweis masih digunakan warga Tengger. Khususnya dalam upacara adat seperti Agem-agem dalam perayaan Karo.
“Biasanya, warga Suku Tengger menyebut edelweis dengan Tana Layu. Kata ini berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya tidak layu. Tantangan awalnya untuk pelestarian bunga ini yakni dikawatirkan hilangnya kesakralan ketika dibudidayakan. Namun setelah konsultasi dengan dukun pandita rupanya disambut baik,” kata Penyuluh Kehutanan Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger (BBTNBTS) Birama Terang Radityo.
Ketua Paruman Dukun Tengger Kabupaten Probolingo Sutomo menerangkan jika, bungan edelwies atau tana layu ini bagi umat hindu tengger memiliki keistimewaan. Bahkan menurutnya, bunga itu merupakan salah satu bunga yang dibuat sarana upacara dalam ritual. Pasalnya seluruh bagian, mulai dari pohon, bungan hingga daun edelweis mempunya energi positif yang besar.
“Ada tiga bunga yang wajib ada pada saat ritual dan juga dibuat sesaji. Yakni bunga edelweis, bunga sunikir dan juga bunga putian. Ketiga kombinasi bunga ini wajib ada pada saat dibuat sesaji dalam upcara adat,” katanya, Sabtu (20/5) sore.
Menurutnya, pada saat bungan tersebut dibacakan doa-doa dalam upacara adat, maka energi positif yang ada di dalam bunga muncul atau keluar. Energi positif tersebut dapat menarik energi alam, baik energi makrokosmos dan juga mikrokosmos.
Hal senada juga diungkapkan Kades Ngadisari Sunaryono. Menurutnya, bungan edelweis banyak memberikan mafaat. Baik secara kekuatan spiritual maupun untuk wisatawan. Sadar akan pentingnya hal tersebut. Para umat suku Tengger Bromo juga tengah berupaya untuk melestarikanya. Dengan terjaga kelestarianya, maka wara yang melangsungkan upacara adat juga tidak kebingungan untuk mendapatkanya.
“Bagi kami bunga ini sangat penting kelestarianya. Sehingga, kami jaga betul kelestarianya,” imbuhnya. (rpd/fun) Editor : Ronald Fernando