Bocah malang itu diketahui bernama Amar, 5. Ia ditemukan meninggal mengambang di kolam ikan koi berukuran 1,5 x 3 meter. Kolam ikan koi itu berada di dalam rumah Fajar.
Saat itu, rumah memang sedang sepi. Hanya ada Amar dan neneknya, Sulastri, 59, yang menjaga. Ayahnya, Fajar sedang bekerja di PT Sasa Inti, Gending. Sedangkan Eka Agustin, 42, ibunya tengah takziah ke rumah kerabatnya.
“Karena ayahnya bekerja dan ibunya takziah, jadi saya yang jaga,” terang Sulastri saat ditemui di rumahnya.
Sekitar pukul 08.00, Amar masih bermain di sekitar rumahnya. Sulastri pun menjaganya sembari menyapu lantai dapur rumah itu.
Sekitar lima menit kemudian, tak ada suara apapun. Karena curiga, Sulastri mencari Amar ke sejumlah ruangan di lantai satu rumah itu. “Saya nyari tidak ketemu, padahal baru ditinggal sebentar. Kurang dari lima menit,” tuturnya.
Sulastri pun naik ke lantai dua rumah itu. Namun, Amar juga tak terlihat di sana. Dia lantas turun. Saat turun dari tangga lantai dua itulah, Sulastri melihat cucunya sudah mengapung di kolam ikan koi.
“Saya langsung minta bantuan tetangga untuk mengangkatnya. Sempat dibawa ke bidan samping rumah. Namun, sudah tidak tertolong,” ucap Sulastri sembari mengusap air matanya.
Amar ditemukan sekitar pukul 08.30 di kolam yang berada di dalam rumah. Tepatnya, di samping tangga ke lantai dua. Tinggi kolam 120 cm dan tinggi air 80 sentimeter.
“Diduga Amar terpeleset ketika melihat ikan. Sehingga, terjatuh ke dalam kolam. Posisinya tengkurap,” imbuhnya.
Seketika itu juga Amar dibawa pulang oleh keluarga. Kemudian langsung dimakamkan di tempat pemakaman umum (TPU) setempat.
Pasangan suami istri ini sebenarnya punya empat anak. Namun, anak pertama hingga ketiga yang semuanya perempuan. Karena itu, suasana rumah sepi.
Amar adalah anak terakhir dan satu-satunya laki-laki. Sehari-hari, hanya dia yang ada di rumah bersama orang tuanya dan neneknya.
Kapolsek Wonoasih Kompol Sumardjo menyatakan, petugas dari Subsektor Kedopok termasuk Babinsa sudah mendatangi rumah korban untuk mengecek.
Namun, pihak keluarga enggan korban divisum. Keluarga juga menandatangani surat penolakan visum dan memilih langsung memakamkan korban.
“Dugaan sementara balita ini terpeleset ketika sedang melihat ikan di kolam koi tersebut. Sementara neneknya sedang menyapu lantai dapur. Jenazah langsung dimakamkan. Keluarga menolak otopsi,” tandasnya. (rpd/hn) Editor : Muhammad Fahmi