Ketika berada di kawasan lereng gunung, maka menjadi masyarakat Suku Tengger. Misalnya, warga Suku Tengger Bromo di Probolinggo, sehingga ada di Kecamatan Sukapura, Kecamatan Sumber, dan Kecamatan Lumbang. Ketika berbicara Suku Tengger di Pasuruan, ada Wonokitri dan Tosari. Begitu juga di daerah lain, baik di Malang ataupun Lumajang.
“Jadi, warga Suku Tengger itu tidak berbicara masalah agama,” ujar Ketua Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Kabupaten Probolinggo, Supoyo.
Karena itu, tak heran ketika ada sebuah perayaan, antarumat beragam tetap saling bergotong royong. Tetap saling bersilaturahmi. Kata Supoyo, meski perayaan agamanya berbeda, hal itu tidak mengubah tingkat toleransi warga.
“Ketika umat Hindu Tengger merayakan Kasada atau sebaliknya, umat muslim merayakan Idul Fitri, maka tetap saling anjang sana-anjang sini atau silaturahmi,” ujarnya. (rpd/rud) Editor : Muhammad Fahmi