Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Sumber Ardi Wonoasih, Tempat Pemandian Penjajah yang Masih Angker

Jawanto Arifin • Sabtu, 12 November 2022 | 18:49 WIB
PEMANDIAN PENJAJAH: Kolam yang ada di Sumber Ardi, yang dibangun Belanda. Sejauh ini, kolam ini masih layak difungsikan dan menjadi tempat mandi dan latihan renang warga. (Foto: Zainal Arifin/Jawa Pos Radar Bromo)
PEMANDIAN PENJAJAH: Kolam yang ada di Sumber Ardi, yang dibangun Belanda. Sejauh ini, kolam ini masih layak difungsikan dan menjadi tempat mandi dan latihan renang warga. (Foto: Zainal Arifin/Jawa Pos Radar Bromo)
SUMBER Ardi di Kelurahan/Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo, sudah lama dikenal orang. Meski sudah ada sejak zaman penjajahan, hingga kini masih eksis. Bahkan, dipercaya masih angker.

Sumber Ardi berada di Kelurahan/Kecamatan Wonoasih. Tak jauh dari Jalan Prof. Dr. Hamka. Namun, tidak ada penanda khusus, kapan sumber air ini muncul. Tidak ada bukti-bukti tertulis yang menjadi catatan tentang sumber yang sejauh ini manfaatnya banyak dirasakan warga ini.

Sami’an, 42, salah seorang warga yang tinggal tak jauh dari Sumber Ardi mengatakan, tidak ada yang tahu persis sejarah sumber ini. Orang-orang terdahulu sudah meninggal dunia. Mereka tidak meninggalkan bukti sejarah, seperti kisah tertulis ataupun semacamnya.

Photo
Photo
AIR BERSIH: Seorang warga mencuci pakaian di Sumber Ardi. Selain menjadi tempat mencuci pakaian, lokasi ini juga jadi tempat mandi dan sumber pengairan lahan pertanian. (Foto: Zainal Arifin/Jawa Pos Radar Bromo)

“Yang menjaga dan dipercaya sebagai petugas untuk membersihkan lokasi sumber pun pendatang, sehingga tidak ada yang tahu pesis asal muasal sumber ini,” katanya, Jumat (11/11).

Sami’an mengaku sempat mendapatkan kisah dari para sesepuh di sekitar Sumber Ardi. Katanya, sumber ini sudah ada sejak sebelum Belanda menjajah Indonesia. Bahkan, menjadi tempat tentara Belanda mandi. Mengingat sumbernya begitu besar.



Oleh Belanda, dibuatkan bendungan dengan ukuran sekitar 150 meter persegi. Bendungan ini hingga kini masih bertahan. “Bendungan yang berbentuk kotak ini asli dari zaman Belanda. Karena tempat ini dibuat pemandian kolonial,” katanya.

Setelah Belanda meninggalkan lokasi, Sumber Ardi tidak terawat. Kondisinya menjadi angker. Cahaya matahari terhalang pepohonan yang kian rimbun. Karena itu, menjadi sedikit gelap meski siang hari.

“Bahkan, sampai sekarang di pojokan (Timur-Selatan), dipercaya masih angker. Tak sedikit warga sekitar yang melihat sosok perempuan. Kadang enak-enak mandi, tiba-tiba seakan ada yang narik dari bawah. Makanya oleh warga sampai ditulisi angker di pojokan sana. Tujuannya agar yang mandi tidak ke sana,” jelasnya.

Photo
Photo
PINTU MASUK: Gerbang menuju Sumber Ardi. (Foto: Zainal Arifin/Jawa Pos Radar Bromo)

Sumber mata air ini, dulu mengalir begitu deras. Ketika Bromo erupsi pada 2011, kondisinya semakin dangkal. “Dari cerita warga sekitar, dulu sumber mata air ini besar. Ini karena di sekelilingnya di tumbuhi oleh rumpunan bambu yang sampai saat ini masih terjaga kelestariannya. Namun, ketika Bromo meletus, jadi berubah,” katanya.

Ibu tiga anak itu juga mengatakan, di sekitar Sumber Ardi, juga terdapat sumber lain. Namun, setelah Bromo erupsi, banyak sumber yang sudah mati atau tidak berfungsi lagi. Adapun sumber lainnya adalah Sumber Mata Air Nengkek, Sumber Tancak, Sumber Celep, Sumber Tin, Sumber Bini’an, dan Sumber Lake’an.



Keenam sumber mata air ini berada di sekitar lokasi Sumber Ardi. Namun, kini sudah banyak yang tidak mengeluarkan air lagi. “Disebut Sumber Nengke’ ini karena sumber mata air ini dangkal. Di sebut sumber mata air Tancak, karena sumber ini mengalir seperti air terjun. Sumber Tancak ini kini sudah tak tampak lagi. Di bawah Sumber Tancak, ada Sumber Celep yang airnya dingin,” jelasnya.

Sumber mata air selanjutnya adalah Sumber Tin. Ini karena di atas sumber itu ada sebuah rumah warga yang bernama Tin. Sumber Lake’an yang digunakan untuk mandi para santri laki-laki Pesantren Roudlatul Muta’alimin. “Sumber Bini’an, karena sumber ini digunakan untuk mandi para santri perempuan Pesantren Roudlatul Muta’alimin,” katanya.

 

Penuhi Kebutuhan Irigasi, Jadi Tempat Latihan Renang

Keberadaan Sumber Ardi, begitu bermanfaat bagi warga. Lahan pertanian di sekitar lokasi tampak hijau dan sehat. Karena tidak pernah terkendala dengan ketersediaan air.

Selain untuk irigasi, air dari sumber ini juga dimanfaatkan untuk kebutuhan air bersih warga. Mulai dari mandi sampai untuk mencuci pakaian. Kini, keberadaannya semakin baik setelah dikelola oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).

Kini, tampilannya lebih baik. Fasilitasnya juga bertambah. Salah satunya tersedia gazebo sebagai tempat nongkrong. Karena itu, tak heran bila banyak muda-mudi yang menjadikan tempat ini sebagai tempat nongkrong. Bahkan, menjadi tempat berenang.

Seperti diterangkan Fatoni, 19. Menurutnya, tak sedikit para remaja dan pemuda di sekitar sumber yang belajar berenang dan mandi di Sumber Ardi. Kolam seluas 150 meter persegi cukup mumpuni untuk belajar berenang. “Saat ini, sudah tidak dalam. Paling dalam 1,5 meter. Jadi, jika mau belajar berenang dan mandi bisa di sini,” katanya.

Sedangkan warga yang biasa mencuci pakaian, biasanya menggunakan tempat di sisi pembuangan air sumber. Karena itu, air sabunnya tidak bercampur dengan air di lokasi yang biasa menjadi tempat mandi atau berenang.



“Karena tempatnya enak, juga jadi tempat nongkrong. Biasanya kami jagongan di sini. Nanti masuk siang hari dan panas, baru mandi dan berenang. Tapi, jika malam, jarang. Soalnya masih takut. Kecuali pas ramai atau banyak yang nongkrong,” ujar remaja yang tinggal tak jauh dari Sumber Ardi ini. (rpd/rud) Editor : Jawanto Arifin
#sumber air #sumber ardi