Saat ini, sejumlah koleksi masih tersebar di tiga tempat. Statusnya adalah barang titipan. Ada yang dititipkan di Museum dr. Mohamad Saleh, UPT Perpustakaan Kademangan, dan di gedung Dewan Kesenian Kota Probolinggo.
Pantauan Jawa Pos Radar Bromo menyebutkan, tidak semua koleksi Museum Probolinggo dititipkan di tiga lokasi itu. Sebagian masih ada di dalam museum.
”Kalau yang dititipkan di museum sini (Museum dr. Mohamad Saleh), hanya patung-patung. Itu masih ada di dalam. Saya belum tahu kapan mau dipindah lagi ke gedung Museum Probolinggo,” kata Ahmad, salah satu petugas Museum dr. Mohamad Saleh di Jalan dr. Saleh, Kota Probolinggo.
Lantas kapan koleksi Museum Probolinggo itu akan dikembalikan ke tempat semula? Jawa Pos Radar Bromo pun mengonfirmasi Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Probolinggo Wawan Soegyantono untuk mendapatkan kepastian itu. Namun, saat dihubungi via telepon, Wawan tak kunjung merespons. Pesan singkat WhatsApp pun tak dijawab.
Sementara Wakil Ketua DPRD Kota Probolinggo Fernanda Zulkarnain saat dikonfirmasi mengaku, dirinya baru mendengar bahwa Museum Rasulullah sudah tutup. Secara pribadi, menurutnya, dirinya mendukung penuh Museum Rasulullah itu. Apalagi, saat ini museum itu sudah menjadi ikon Kota Probolinggo.
Bahkan, selama Museum Rasulullah buka, banyak pengunjung yang berasal dari luar kota. Tidak hanya dari Kota Probolinggo.
”Saya setiap keluar daerah selalu mempromosikan Museum Rasulullah di Kota Probolinggo. Kalau museum (Rasulullah) ini ditutup karena alasan tempat, saya rasa pemkot bisa mencarikan lokasi lain milik aset,” katanya pada Jawa Pos Radar Bromo kemarin.
Di sisi lain, menurutnya, penutupan Museum Rasulullah yang mendadak itu malah menimbulkan kesan tidak baik. Sebab, selama ini museum tersebut sudah telanjur menjadi ikon Kota Probolinggo.
Selain itu, APBD juga sudah men-support banyak untuk kehadiran Museum Rasulullah. Kemudian, meninggalkan polemik karena belum pernah menyumbang pendapatan asli daerah (PAD) yang setimpal.
”Tapi, terlepas kendala apapun yang membuat museum ditutup, harus dicarikan solusi yang baik. Agar museum Rasulullah tetap ada di tengah-tengah Kota Probolinggo,” harapnya.
Ketua Komisi I DPRD Kota Probolinggo Mochamad Jalal memberikan pendapat serupa. Menurutnya, Museum Rasulullah kadung menjadi ikon Kota Probolinggo. Jika tempat yang menjadi kendala dan pemkot bakal mencarikan solusinya, maka dirinya mendukung langkah itu.
”Saya rasa jika pemerintah akan mencarikan tempat lain untuk pameran artefak Rasulullah, itu kebijakan yang tepat,” tuturnya.
Di sisi lain, Ketua MUI Kota Probolinggo KH Nizar Irsyad mengatakan, saat ini sudah ada jawaban dari Wali Kota Probolinggo tentang keberadaan artefak Rasulullah. Bahkan, artefak itu sudah dikeluarkan dari museum.
Adapun kedatangan MUI ke museum beberapa hari lalu, tujuannya untuk mengecek keberadaan artefak Rasulullah. Apakah benar masih ada di sana atau memang sudah dikeluarkan. Sebab, pihaknya mendapat laporan dari warga bahwa artefak Rasulullah sudah dikeluarkan dari museum.
“Kalau barang-barang di sana sudah dikeluarkan dari museum, bagi kami tidak ada masalah saat museum dijadikan kegiatan kesenian. Lagipula sudah ada jawaban pasti dari Wali Kota tentang keberadaan barang di museum. Jadi sudah tidak ada masalah. Kami dukung jika pemerintah mencarikan tempat lain untuk jadi Museum Rasulullah,” terangnya. (mas/hn) Editor : Jawanto Arifin