Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Lima Bulan Temukan Lima Kasus Leptospirosis di Probolinggo, Satu Meninggal

Jawanto Arifin • Kamis, 21 Juli 2022 | 17:16 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi
MAYANGAN, Radar Bromo - Temuan kasus leptospirosis di Kota Probolinggo masih cukup tinggi. Selama enam bulan di tahun ini, Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes dan P2KB) menerima laporan lima kasus. Satu penderita di antaranya meninggal dunia.

Sub Koordinator Pengendalian Penyakit Menular pada Dinkes dan P2KB Kota Probolinggo, dr. Lusi Tri Wahyuni mengungkapkan, lima kasus leptospirosis ini tertinggi ditemukan di Kecamatan Kanigaran sebanyak tiga kasus. Satu kasus berujung kematian. Sementara dua kasus lainnya di temukan di Kecamatan Wonoasih dan Kecamatan Mayangan.

Dibandingkan temuan kasus pada tahun lalu, temuan ini cukup tinggi. Pada 2021, ada 16 kasus leptospirosis dengan lima penderita meninggal dunia. Penderita yang terserang penyakit leptospirosis karena mereka sering kontak dengan air. Meski sudah memasuki musim kemarau, namun resiko terserang leptospirosis masih ada.

"Meski saat ini sudah masuk pancaroba, tapi tidak bisa dinyatakan aman 100 persen. Karena tahun lalu, temuan leptospirosis tidak hanya saat musim hujan. Meski kemarau masih ada faktor risiko," ungkapnya.

Ia menjelaskan leptospirosis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri leptospira. Bakteri ini dapat menyebar melalui urine atau darah hewan yang terinfeksi. Beberapa hewan yang bisa menjadi perantara penyebaran leptospirosis adalah tikus, sapi, anjing, dan babi.

Leptospirosis ini menyebar melalui air atau tanah yang telah terkontaminasi urine hewan pembawa bakteri leptospira. Seseorang dapat terserang leptospirosis, jika terkena urine hewan tersebut, atau kontak dengan air, makanan atau tanah yang telah terkontaminasi bakteri itu.

Bakteri leptospira dapat masuk ke dalam tubuh melalui luka terbuka. Baik luka kecil seperti luka lecet, maupun luka besar seperti luka robek. Bakteri ini juga bisa masuk melalui mata, hidung, mulut, dan saluran pencernaan.



Bakteri ini memang paling rawan menyebar saat musim hujan. Namun yang paling utama penyebaran bakteri leptospira ini lebih disebabkan pada perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) masyarakat. Kasus kematian yang terjadi selama ini karena terlambat penanganan.

Padahal, penyakit ini bisa diantisipasi. Di antaranya dengan mengonsumsi air minum yang sudah terjamin kebersihannya, mencuci tangan setiap sebelum makan dan setelah melakukan kontak dengan hewan dan menjaga kebersihan lingkungan.

"Beberapa gejala yang dialami penderita yaitu demam tinggi, sakit kepala, perdarahan, nyeri otot, menggigil, mata merah, dan muntah. Jika tidak ditangani dengan cepat, maka leptospirosis dapat menyebabkan kerusakan ginjal dan hati, dan bahkan kematian," jelas Lusi. (riz/fun) Editor : Jawanto Arifin
#penyakit kencing tikus #dinkes kota probolinggo #leptospirosis