Seperti disampaikan salah seorang pedagang, Maimunah Nawaroh, 74. Pemilik warung nasi ini mengaku, penghasilan dari berjualan tidak sebanding dengan pengeluaran. Pengunjung selalu sepi.
Menurutnya, tidak hanya pada hari-hari biasa, saat liburan, seperti musim mudik Hari Raya Idul Fitri, masih sepi. Padahal, banyak pedagang yang mengharap kedatangan pengunjung.
Warga Sidoarjo ini mengaku, menyewa dua kios di Rest Area Tongas sejak 2016. Dua-duanya sama-sama dijadikan warung nasi. Beroperasi mulai pukul 07.00 sampai pukul 24.00.
Setiap hari, kata Maimunah, pengunjung yang datang ke warunganya antara 1 sampai 2 orang. Bahkan, kadang tidak ada sama sekali. Sedangkan, setiap bulan, pihaknya harus mengeluarkan Rp 4 juta untuk sewa kios. “Saya hanya bisa berdoa kepada Allah Subahanahu Wata’ala. Mengharap kelancaran,” ujarnya.
Selain berjualan, Maimunah juga tinggal di kios ini bersama keluarganya. Selain dirinya, ia juga bersama empat anak dan dua cucu.
Pernyataan serupa disampaikan pedagang lainnya, Farida Miike Wijaya, 50. Warungnya juga sepi pengunjung. Meski setiap malam ada saja warga yang berkunjung ke rest area. Namun, mereka tidak ke warung. Melainkan hanya nongkrong di bagian belakang kios.
Farida mengatakan, tak jarang kawasan ini dijadikan tempat berpesta minuman keras (miras). “Orang-orang mabuk biasanya suka ngawur. Pedagang sini kadang ketakutan. Soalnya mereka sampai berkelahi menggunakan celurit,” katanya.
Terpisah, Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Probolinggo Endang Rustiningsih mengaku, akan berusaha membuat rest area ini lebih ramai. Ada sejumlah program yang telah disiapkan.
Pertama, kata Endang, mengadakan event di setiap lokasi yang penuh dengan perdagangan. Seperti di Rest Area Tongas. Agar bisa menarik pengunjung untuk bisa membantu para pedagang. “Kami juga minta maaf. Karena baru setahun dilantik untuk diamanahi tugas seperti ini,” ujarnya. (mg/rud) Editor : Ronald Fernando