Tahun ini Pemerintah Desa Gunug Tugel, membangun jalan di Dusun Uter. Jalan sepanjang 130 meter di RT/RW 5 itu dirabat beton. Sebelumnya, jalan ini pernah diperbaiki pada 2017. Saat itu sebatas pengerasan dengan struktur batu.
Namun, karena hujan yang rutin melanda, jalan telford ini terkikis, sehingga hanya tersisa batu besar. Kondisi ini menyulitkan masyarakat yang melintas. Terutama pengendara roda dua. Karena itu, pemerintah desa memperbaikinya dengan rabat beton.
“Pembangunannya dilakukan selama 20 hari dan rampung April lalu. Pelaksanaanya menggunakan dana desa senilai Rp 40.693.000,” ujarnya.
Tak hanya itu, pemerintah desa juga memperbaiki jembatan di Dusun Curahbindu RT 14/RW 4. Jembatan sebelumnya, setelah sering dilintasi truk bermuatan buah dan bahan makanan.
Sedangkan, jembatan ini menjadi akses utama bagi warga untuk menuju Dusun Krajan. Bahkan, warga dari Desa Tigasan Kulon, Kecamatan Leces, sering melalui jalur ini sebagai jalan pintas menuju Kecamatan Bantaran. Selama jembatan rusak, warga menggunakan jembatan darurat.
“Cuma untuk roda empat tidak bisa lewat jembatan darurat. Mereka harus memutar jauh lewat selatan balai desa. Tahun ini dianggarkan Rp 47.334.000,” ujar Asen.
Gandeng Warga Beternak Kambing
Berbagai upaya dilakukan Pemerintah Desa Gunung Tugel, untuk meningkatkan kesejahteraan warganya. Salah satunya melalui program ketahanan pangan. Pemerintah desa mengajak warganya beternak kambing etawa.
Pengembangbiakan kambing ini dilakukan dengan sistem bagi hasil bersama desa. Ada 30 ekor kambing etawa yang diberikan kepada 30 warga. Prioritasnya adalah warga yang bersedia mengembangkannya.
Sistemnya, jika kambing itu beranak, maka untuk anakan pertama menjadi hak milik pembudi daya. Barulah pada kelahiran kedua dilakukan bagi hasil. Hasil yang didapatkan pemerintah desa, akan diberikan kepada warga untuk dikembangkan lebih lain. Juga dengan sistem bagi hasil.
Pemerintah desa memilih kambing etawa, karena selama ini banyak warga Desa Gunung Tugel, yang telah mahir membudi daya. Sehingga, perkawinan tetap tidak jadi masalah. Karena itulah mereka yang sanggup mengembangkannya.
“Bisa dialihkan ke orang lain jika peternak sebelumnya ingin berhenti. Kami baru mengambil bagi hasil mulai dikelahiran kedua,” ujar Asen.
Di samping itu, pemerintah desa juga berusaha meningkatkan kesejahteraan warganya dnegan memberikan bantuan langsung tunai (BLT-DD). Tercatat ada 184 warga yang mendapatkannya. Jumlah ini lebih banyak dibanding tahun kemarin yang hanya 181 keluarga penerima manfaat.
“Kalau sudah dapat program keluarga harapan (PKH) atau bantuan pangan nontunai (BPNT), ya tidak akan bisa dapat BLT-DD,” ujarnya. (riz/rud/*)