Salah serang perajin kue banjar itu adalah Faridha Ruhmi, 62. Warga RT 3/RW 3, Kelurahan Kedungasem, Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo. Perempuan empat anak ini mengatakan, tidak banyak orang yang memproduksi dan memesan kue banjar. Tetapi, memasuki Ramadan dan menjelang Lebaran, pemesan terus berdatangan.
“Peminatnya mayoritas saat Ramadan dan Lebaran. Kalau hari-hari biasa atau pada bulan biasa, palingan pesenan untuk lamaran saja. Itu pun tidak banyak,” ujarnya, Jumat (22/4).
Pembuat kue banjar juga cukup jarang. Karena proses pembuatanya butuh tenaga dan ketelatenan ekstra. Sementara, harga jualnya terbilang murah. “Bukan karena resepnya yang rahasia. Semua orang tahu kok, pakai tepung ketan, telur, dan resep seperti kue biasa,” ujarnya.
Faridha mengatakan, kue banjar tanpa pewarna dan baking soda. Dibandingkan kue biasa, katanya, keuntungannya jika dijual, jauh lebih banyak kue biasa. “Seperti putri salju atau lainnya, mungkin ini yang membuat tidak banyak yang mau membuatnya,” ujarnya.
Kue banjar, kata Faridha, tidak bisa dicetak. Setelah bahan baku ditumbuk, harus dibuat satu persatu secara manual. Begitu juga ketika membuat layaknya kembang. Digunting secara manual. “Jika dihitung pendapatan dan beban kerja, bisa dibilang sedikit,” katanya.
Tetapi, kue banjar bukan barang baru dalam keluarga Faridha. Ia merupakan generasi kelima “pelestari” kue banjar. Secara turun temurun, keluarganya selalu memproduksi kue ini setiap Ramadan.
“Turun temurun. Makanya sudah lihai membuat kue ini. Juga karena jarang yang membuatnya, akhirnya orang yang mau memesan kue ini biasanya langsung ke kami,” katanya.
Tak hanya konsumen langsung, kue ini juga banyak dipesan pengusaha. Termasuk pemilik hotel. Faridha mengaku selama ini bisa mendapatkan laba Rp 3 juta.
“Kalau selain Ramadan dan Lebaran, biasanya saya hanya membuat karena ada yang memesan untuk lamaran. Hanya sekitar 1 kilogram. Kalau Ramadan 1 kuintal 26 kilogram bisa habis,” ujarnya. (rpd/rud) Editor : Jawanto Arifin