Banyaknya pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di jalan ini membuat jalan semakin sempit. Mereka juga enggan menempati lokasi relokasi yang disediakan pemerintah. Alasannya sepi pembeli.
Kemacetan rutin terjadi pada pukul 06.00 dan pukul 18.00. Mulai arah Perempatan Citarum sampai Pertigaan Beberan, sering macet. Bahkan, pengendara kendaraan roda dua, apalagi roda empat harus berjalan bergantian secara perlahan.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Probolinggo Agus Effendi mengatakan, masalah kemacetan di belakang PT Eratex Djaja, kompleks. Penyebabnya beragam. Mulai dari PKL hingga kendaraan yang sering parkir di pinggir jalan.
Karena itu, penertiban untuk mengatasi kemacetan ini harus ditangani bersama. Mulai dari Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian, dan Perdagangan (DKUPP); Satpol PP; Satlantas Polres Probolinggo Kota; hingga Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Katanya, koordinator berada di DKUPP.
“PKL ditegur Dishub tidak akan merespons. Tetap harus Satpol PP. Begitulah urusannya memang kompleks dan harus tim penertiban di sana,” ujarnya, Sabtu (2/4).
Kepala DKUPP Kota Probolinggo Fitriawati mengaku, sudah berupaya merelokasi PKL. Mereka telah diberi alternatif lokasi di Jalan Brantas, Kelurahan Pilang, Kecamatan Kademangan. Yakni, di RTH Brantas.
“Namun, mereka tidak mau. Maka, selanjutnya penanganan di tangan Satpol PP jika mereka berjualan di badan jalan,” jelasnya.
Terpisah, Kasatpol PP Kota Probolinggo Aman Suryaman mengaku sudah sering mengimbau para PKL. Termasuk DKUPP dan pemerintah kecamatan. Mereka diminta pindah ke RTH Brantas. Ia mengatakan, pihaknya juga tidak mungkin untuk berjaga di lokasi tersebut setiap hari.
Sejumlah PKL yang berjualan di belakang PT Eratex enggan pindah karena takut kehilangan langganan. Apalagi, di RTH Brantas, sepi pembeli.
“Kalau di sini sudah banyak yang tahu. Kalau di RTH Brantas, belum tentu ada yang beli. Makanya kami keberatan jika dipindah,” ujar salah seorang PKL sambil meminta namanya tidak disebutkan. (riz/rud)
Editor : Ronald Fernando