Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Probolinggo Heri Sulistyo mengungkapkan, angka kemiskinan selama tiga tahun terakhir terus meningkat di Kota Probolinggo. Pada 2019, tingkat kemiskinan mencapai 6,91 persen dengan jumlah warga miskin 16.370 jiwa.
Angka ini meningkat pada 2020 dengan tingkat kemiskinan 7,43 persen dan jumlah warga miskin 17.720 jiwa. Selanjutnya, pada 2021 tingkat kemiskinan kembali naik menjadi 7,44 persen dengan jumlah warga miskin 17.910 jiwa.
“Tiga tahun ini kemiskinan terus meningkat. Namun, kenaikan pada 2021 tidak banyak, hanya 0,01 persen. Ini tidak setinggi pada tahun 2020. Kenaikan mencapai 0,52 persen,” ungkapnya.
Pria asal Kabupaten Tulungagung ini menjelaskan, garis kemiskinan di Kota Probolinggo adalah Rp 545.955 per kapita per bulan. Sehingga, masyarakat dengan pendapatan per kapita di bawah angka itu disebut sebagai penduduk miskin.
Faktor penyebab kenaikan penduduk miskin ini dikarenakan pandemi Covid-19 sejak April 2020. Apalagi pada awal pandemi, pemerintah sempat melaksanakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Kebijakan ini melumpuhkan perekonomian warga.
Saat itu, banyak jalan ditutup dan jam operasional tempat usaha dibatasi. Kondisi tidak berbeda juga terjadi pada tahun lalu. Meski kegiatan perekonomian mulai berangsur pulih, pemerintah kembali melakukan PPKM darurat pada Juni hingga Agustus 2021.
“Pandemi Covid ini memiliki dampak yang luas pada masyarakat. Kegiatan ekonomi sempat lumpuh. Ini berakibat pada angka kemiskinan yang semakin tinggi,” terang Heri. (riz/hn) Editor : Jawanto Arifin