Kecelakaan beruntun itu terjadi di traffic light Ketapang, Jalan Raya Bromo, Kelurahan Ketapang, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo. Sepuluh orang luka-luka. Termasuk, sopir bus tergencet di ruang kemudi. AJ, 56, warga Lumajang.
Seketika, ruas Jalan Raya Bromo pun tersendat. Kemacetan terjadi, meskipun tidak macet total. Evakuasi segera dilakukan petugas Satlantas Polres Probolinggo Kota dibantu warga setempat. Petugas bersama warga juga membantu mengeluarkan sopir dari ruang kemudi.
Bus Borobudur sendiri berangkat dari terminal Jember pukul 10.00. Ada 20 penumpang di dalam bus. Salah satunya Yatimah, 67, warga Desa Gunung Sari, Kecamatan Semboro, Jember. Dia duduk tepat di belakang sopir.
“Saya dari Jember mau ke Pasuruan bersama suami,” katanya sembari duduk usai menjalani perawatan di Puskesmas Ketapang. Kakinya terluka dalam kecelakaan itu.
Diduga, bus Nopol P 7041 UG itu mengejar waktu. Sebab, mulai jalan tol bus melaju sangat kencang. Bahkan, ia merasa beberapa kali bus seolah terbang akibat jalan tol yang kurang rata. Bus juga tidak masuk Terminal Bayuangga di Jalan Raya Bromo.
“Jadi ada penumpang yang mau berhenti di Terminal Bayuangga untuk oper bus. Tapi dak boleh. Disuruh oper bus di halte Ketapang. Jadi bus ngebut dan tidak masuk terminal,” terang nenek itu.
Puncaknya, bus tetap melaju kencang saat hampir mendekati traffic light Ketapang. Padahal di depannya banyak kendaraan berhenti di lampu merah.
Mendekati lampu merah, tidak ada tanda-tanda bus mengurangi kecepatan. Malah, bus mengambil lajur kanan.
“Entah mau menerobos lampu merah atau bagaimana, saya tidak paham. Tapi dari selatan, bus ini sudah beberapa kali menerobos lampu merah,” tambahnya.
Lalu tiba-tiba, ada kendaraan melintas dari arah timur menuju barat. Tepatnya dari Jalan Gus Dur ke arah Perumahan Kopian. Sopir bus pun kaget. Sontak, sopir banting setir ke kiri. “Sepertinya mau ngerem gak nutut. Akhirnya banting kiri,” bebernya.
Akibatnya, bus menghantam truk Cold Disel Nopol P 9411 UG yang disopiri Yuyut, 39, warga Leces, Kabupaten Probolinggo. Bus terus melaju ke kiri dan menghantam pohon di kiri jalan, baru bus berhenti.
“Untungnya tidak ada orang di depannya. Ada rumah makan, tapi sepi, sehingga tidak nabrak orang. Tapi, sejumlah penumpang di dalam bus terpental. Termasuk saya,” terang Yatimah.
Namun, kecelakaan tidak berhenti di situ. Truk yang ditabrak dari belakang menghantam dua pikap dan satu motor.
Seperti yang diungkapkan Haris Nur Faizal, 23, sopir pikap Nopol W 9906 NR. Menurutnya, pikap hitam yang dikendarainya berada di posisi paling depan. Di sebelah kanannya ada motor Yamaha NMax putih Nopol N 5694 PQ. Sementara di belakangnya ada pikap putih Nopol N 8284 RG yang dikemudikan Firman, 27, warga Jati, Kecamatan Mayangan.
“Jadi setelah ditabrak bus, truk menghantam pikap putih, terus nabrak pikap saya, termasuk menabrak motor NMAX yang ada di samping kanan saya. Truk terus melaju ke kanan sampai menghantam tembok Puskesmas Ketapang,” terangnya.
Bahkan, truk juga menabrak gerobak milik Lorisatun Alimah, 54, pedagang kaki lima asal Ketapang. Beruntung, Lorisatun selamat. Hanya gerobaknya yang rusak.
Lorisatun mengaku sedang duduk santai di selatan gerobak miliknya. Tiba-tiba ada truk melaju dan menghantam gerobaknya.
“Saya duduk di samping. Tiba-tiba truk yang berhenti di lampu merah itu melaju ke kanan dan menghantam gerobak saya. Untung tidak kena saya, tapi gerobak saya rusak. Kerugian ditaksir sekitar Rp 5 jutaan,” bebernya.
Akibat kecelakaan itu, sepuluh orang luka-luka dan dilarikan ke Puskesmas Ketapang. Beberapa orang lantas dirujuk ke RSUD dr. Mohamad Saleh. Sementara sebagian yang lain enggan dirujuk, karena lukanya tidak parah.
Yang disayangkan, sejumlah penumpang kehilangan barang. Seperti Yatimah, kehilangan dompetnya.
“Saya kan duduk di depan, dompet saya taruh di tas bawah. Isinya uang Rp 500 ribu. Saat kecelakaan tasnya jatuh dan tumpah. Karena panik semuanya keluar bus dan dompet saya tidak ditemukan,” tandasnya. (rpd/hn) Editor : Jawanto Arifin