Kamis (15/7), warga Kelurahan Triwung Kidul, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo, itu menerbangkan layang-layangnya. Layangan yang menelan anggaran Rp 3 juta itu diterbangkan di Jalan K.H. Abdurahman Wahid di Kelurahan Ketapang, Kecamatan Kademangan.
Adanya layangan raksasa ini pun mendapat perhatian dari warga. Tak sedikit warga yang menghentikan laju kendaraannya dan melihat dari dekat. Terlebih, ketika sejumlah anak-anak menaiki layangan dan ikut terbang. Mereka bergantian bergelantungan di tali layangan hanya bermodalkan tampar dan bambu tempat duduk.
Tampar yang dihubungkan bambu sepanjang sekitar setengah meter itu disambung dengan tampar utama layang-layang. Di bambu itulah anak-anak bisa duduk. Pengamannya, mereka harus memegang erat-erat tampar utama. Meski sangat berbahaya, sejumlah anak itu terlihat bahagia. Termasuk Rifky.
Anak sulung Abdul Qodir itu mengaku senang dan tidak takut. Meski hanya berbekal tali dan bambu sebagai tempat duduk. “Tidak takut, senang. Apalagi jika tinggi,” ujar bocah yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak tersebut.
Di tempat yang sama, Abdul Qodir mengaku juga tidak khawatir melihat anaknya “terbang.” Katanya, anaknya begitu berani dan malah senang. “Tidak, apalagi anaknya berani,” ujarnya.
Awalnya, ketinggian anaknya mencapai 5 meter. Namun, karena semakin sore anginnya semakin mereda, Qodir memindahkan tali yang dipakai anak-anak untuk naik lebih maju. Sehingga, ketika ada anak yang naik tingginya hanya sekitar 3 meter.
“Tadi datang sekitar pukul 15.30 dan mulai menerbangkan layangannya. Kerena sore dan mau magrib, jadi saya turunkan dulu saja dan bawa pulang,” ujarnya.
Qodir mengaku menghabiskan duit Rp 3 juta untuk membuat layangan ini. Tujuannya, hanya untuk kesenangan belaka. Tidak untuk dijual. “Pembuatannya saja makan waktu dua bulan. Untuk kesenangan saja. Tapi, kalau ada lomba, saya ikutkan,” ujar pria dua anak itu.
Ia mengaku sengaja menerbangkan layangannya di Jalan K.H. Abdurahman Wahid. Karena, lokasinya masuk area persawahan dan anginnya juga kencang. Sehingga, ekor “naganya” tidak terkena rumah atau pohon.
“Untuk awal menaikan dan menurunkan setidaknya butuh 8 orang. Jika hanya dua orang tidak akan mampu. Apalagi jika anginnya kencang. Bisa-bisa terbawa,” ujarnya. (rpd/rud)
Editor : Muhammad Fahmi