Bahkan, diperkirakan 85 persen dari 1.837 rumah yang terdampak banjir sanitasinya tersumbat. Karena kondisi itu, Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Disperkim) Kabupaten Probolinggo menyiapkan toilet portabel umum. Toilet portabel ini diharapkan bisa memenuhi kebutuhan sanitasi warga.
Kepala Disperkim Kabupaten Probolinggo H. Prijono mengatakan, asesmen dampak banjir masih berjalan. Sejumlah kerusakan akibat bencana banjir masih didata.
Di antaranya, sanitiasi rumah warga dipastikan mampet. Total ada 1.837 kepala keluarga (KK) yang rumahnya terendam banjir. Nah, diperkirakan 85 persen rumah yang terendam banjir saat ini sanitasinya tersumbat.
”Untuk dampak bencana banjir, sekitar 85 persen rumah yang terendam banjir sanitasinya tersumbat,” katanya.
Prijono menjelaskan, sanitasi rumah warga mampet karena tidak hanya air banjir yang masuk ke tempat pembuangan akhir. Namun juga lumpur.
”Kami asesmen dulu kerusakan sanitiasi rumah warga. kemudian dikoordinasikan lebih lanjut untuk penanganannya saat kondisi sudah membaik,” terangnya.
Di sisi lain, asesmen kerusakan rumah juga sedang berjalan. Untuk Desa Kedungdalem, ada 25 rumah yang rusak. Mulai rusak ringan, sedang, dan berat. Belum kerusakan rumah warga di Desa Dringu yang diperkirakan lebih parah kondisinya dibanding desa lainnya.
”Kami belum dapat memastikan berapa rumah yang rusak. Karena asesmen masih berjalan. Sementara, ada 25 rumah yang rusak. tapi belum lainnya,” terangnya.
Sementara itu, bantuan untuk korban banjir Kecamatan Dringu di Kabupaten Probolinggo terus berdatangan. Selain sembako, ada ribuan pakaian layak pakai menumpuk di Posko Kabupaten Probolinggo di kantor Kecamatan Dringu.
Pakaian layak pakai itu pun langsung disortir oleh petugas dan relawan sebelum dibagikan. Dan kemarin, pakaian itu mulai disalurkan ke korban banjir secara bertahap.
Plt Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Probolinggo Tutug Edi Utomo mengatakan, bantuan dari masyarakat untuk korban banjir diterima di Posko Kabupaten Probolinggo. Selanjutnya, sesuai manajemen penanganan bencana, bantuan itu disalurkan pada korban bencana banjir secara bertahap dan merata.
”Termasuk bantuan pakaian layak pakai dari masyarakat kami terima. Semua pakaian itu disortir. Ada puluhan relawan yang menyortir pakaian layak pakai itu. Sehingga, penyalurannya lebih praktis dan mudah,” katanya.
Namun, yang tidak kalah pentingnya, menurut Tutug, saat ini korban banjir membutuhkan peralatan bersih-bersih untuk membersihkan sisa materail banjir. Menurutnya, bantuan sembako, pakaian layak pakai, dan air mineral di posko cukup banyak.
Ada juga bantuan peralatan bersih-bersih. Hanya saja, bantuan peralatan bersih-bersih itu tidak sebanyak sembako dan pakaian layak pakai. Sementara saat ini, warga sangat butuh alat bersih-bersih.
”Warga korban banjir juga butuh peralatan bersih-bersih untuk membersihkan sisa material banjir. Bantuan peralatan bersih yang ada di posko juga disalurkan pada warga,” terangya.
Kebutuhan alat bersih-bersih dibenarkan Tanti, 30, salah satu korban banjir warga Desa/Kecamatan Dringu. Menurutnya, saat ini warga korban banjir membutuhkan peralatan bersih-bersih untuk membersihkan sisa banjir di rumah masing-masing.
”Kami juga butuh peralatan bersih-bersih. Termasuk pacul dan peralatan lainnya untuk membersihkan lumpur,” katanya.
Sementara saat ini yang terus mengalir yaitu bantuan nasi bungkus, pakaian layak pakai, pampers, dan lainnya. Dia pun berharap bantuan alat untuk bersih-bersih juga bisa disalurkan ke korban banjir. (mas/hn) Editor : Jawanto Arifin