Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Begini Syarat Donor Plasma Konvalesen Bagi Perempuan

Jawanto Arifin • Minggu, 10 Januari 2021 | 17:00 WIB
Ilustrasi donor plasma konvalesen. (Dok. Radar Bromo)
Ilustrasi donor plasma konvalesen. (Dok. Radar Bromo)
KANIGARAN, Radar Bromo - Adanya pandemi Covid-19, membuat para tenaga medis terus berusaha mencari cara yang efektif untuk meningkatkan kesembuhan pasien yang terpapar. Salah satunya dengan menerapkan terapi plasma darah konvalesen.

Plasma konvalesen merupakan salah satu metode imunisasi pasif yang dilakukan dengan memberikan plasma orang yang telah sembuh dari Covid-19, kepada pasien korona sedang dirawat. Plasma darah pasien yang sudah sembuh ini memiliki antibodi untuk melawan virus korona.

Namun, terapi plasma darah ini hanya dilakukan untuk pasien korona yang dalam kondisi kritis. RSUD dr. Mohamad Saleh Kota Probolinggo, sebenarnya telah memiliki alat untuk memisahkan plasma darah dengan sel darah. Alat itu bernama Apheresis. Tetapi, alat ini tidak hanya digunakan untuk plasma konvalesen, namun untuk penyakit lain seperti leukimia.

“Plasma konvalesen ini adalah plasma darah pasien positif Covid-19 yang telah sembuh yang diberikan kepada pasien positif Covid-19 yang dirawat. Namun, tidak semua pasien positif Covid-19 yang telah sembuh bisa menjadi donor plasma konvalesen,” ujar Plt Kepala Unit Transfusi Darah Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Probolinggo, Dau Widodo, Jumat (8/1) lalu.

Dau mengungkapkan, dari sejumlah mantan pasien Covid-19, tidak semuanya bisa menjadi donor. Pernah dari 11 ddonor, namun dari hasil pemeriksaan sampel di laboratorum PMI Lumajang, hanya ada 4 yang bisa menjadi donor konvalesen.

“Biasanya diperiksa dulu plasma darahnya dan kandungan antibodinya. Yang bisa mendonorkan plasma konvalesen ini sudah sembuh dan dinyatakan negatif maksimal 30 hari. Jika di atas 30 hari biasanya antibodi sudah berkurang, jadi kurang efektif untuk plasma konvalesen,” jelasnya.

Disinggung mengenai alasan harus laki-laki untuk menjadi donor plasma konvalesen, Dau mengatakan, donor wanita bisa juga, namun syaratnya tidak pernah melahirkan. “Karena dikhawatirkan ada reaksi saat transfusi,” ujarnya.

Selain itu, untuk mendermakan plasma konvalesen, golongan darah dan rhesusnya harus sama antara donor dengan pasien. “Yang mencari rhesus negatif ini yang sulit. Karena, umumnya orang asia itu rhesusnya positif,” jelasnya.

Sejauh ini, para donor yang bersedia mendermakan plasma konvalesennya, belum bisa dilakukan di PMI Kota Probolinggo. Selain tidak memiliki alat khusus untuk memisahkan sel darah dengan plasma darah, juga tidak ada ketersediaan alat penyimpanan khusus untuk plasma darah konvalesen.

“Penanganan plasma konvalesen ini berbeda dengan darah hasil donor darah biasa, terutama untuk penyimpanan. Jika darah biasa bisa disimpan di suhu 2-5 derajat selcius, maksimal 10 derajat selcius, kalau plasma konvalesen harus dalam kondisi beku dengan suhu -30 sampai -40 derajat. Jika tidak memenuhi ketentuan penyimpanan suhu ini, dikhawatirkan akan rusak kandungan antibodinya. Disini yang ada alat penyimpanannya di PMI Lumajang,” jelasnya.

Dau meminta kepada warga yang pernah terkonfirmasi posifit Covid-19 dan telah dinyatakan sembuh, untuk mendermakan plasma darahnya untuk pasien yang masih dalam perawatan. “Ini juga membantu warga yang saat ini masih dirawat supaya cepat pulih,” ujarnya. (put/rud) Editor : Jawanto Arifin
#pandemi covid-19 #plasma konvalesen #donor