Hal ini diungkapkan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa Timur saat melakukan kunjungan ke Pelabuhan Probolinggo, Kamis (31/12) siang.
“Alhmadulillah. Selama pandemi Covid-19 ini angka kegiatan bongkar muat di Pelabuhan Probolinggo naik 52 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Selain itu, angka komoditas yang dilakukan bongkar muat juga naik. Pada tahun 2019 berjumlah 1,1 juta ton dan tahun 2020 menjadi 1,7 juta ton. Semoga tahun depan bisa tumbuh 70 persen,” ujarnya.
Khofifah pun optimis, keberadaan Pelabuhan Probolinggo semakin meningkatkan perekonomian Jawa Timur. Apalagi dengan kondisi Pelabuhan Tanjung Perak yang semakin padat. Sehingga, Pelabuhan Probolinggo bisa menjadi alternatif untuk bongkar muat perdagangan maupun penunjang pariwisata.
Nyono, Kepala Dinas Perhubungan Jawa Timur membenarkan bahwa terjadi peningkatan aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Probolinggo sepanjang 2020. Walaupun, kondisi sedang pandemic.
“Selama pandemi ini yang dibatasi adalah transportasi manusia. Sedangkan transportasi barang terus berlanjut. Jadi untuk transportasi laut seperti ini tidak terdampak, karena yang dikirim barang. Ada kru tapi sedikit orangnya,” terangnya.
Namun, Nyono mengakui bahwa pertumbuhan kegiatan bongkar muat ini masih di bawah target yang ditetapkan yaitu tumbuh 200 persen. “Kami menargetkan tumbuh 200 persen. Tapi realisasinya 52 persen,” terangnya.
Menurutnya, kegiatan bongkar muat di Pelabuhan Probolinggo masih didominasi oleh pengangkutan barang domestik. Seperti batu bara maupun raw sugar.
“Tidak hanya pabrik dari wilayah Pasuruan dan Probolinggo saja yang melakukan bongkar muat di sini. PT Miwon yang lokasinya di Gresik, bongkar muat raw sugar di Pelabuhan Probolinggo,” terangnya. (put/hn) Editor : Jawanto Arifin