Sepuluh lembaga itu di antaranya SDN Lumbang 2, Kecamatan Lumbang; SMPN 1 Lumbang; SDN Sumber 1, Kecamatan Sumber; SMPN 1 Sumber; SDN Kuripan 2; SMPN 1 Kuripan; SDN Segeran, Kecamatan Tiris; SMPN 1 Tiris; SDN Bermi 2, Kecamatan Krucil; SMPN 1 Krucil. Sepuluh lembaga SDN-SMPN ini berada di lima kecamatan zona hijau.
Uji coba pembelajaran tatap muka ini, mendapat respons positif dari siswa. Mereka sebagian besar mengaku senang, karena bisa merasakan bagaimana “benar-benar sekolah.”
Seperti yang terpantau di SDN Lumbang 2 dan SMPN 1 Lumbang. Saat Jawa Pos Radar Bromo berkunjung ke sana, kemarin. Begitu bel masuk sekolah berbunyi pukul 07.00, siswa kelas VII SMPN 1 Lumbang bergegas ke ruang kelasnya masing-masing. Di depan pintu kelas itu, sudah ada guru yang menunggu dan mengawasi. Karena, semua siswa yang hendak masuk kelas, wajib mencuci tangan lebih dulu.
Tempat cuci tangan itu, terpasang di tiap depan kelas masing-masing. Antrean tempat cuci tangan tidak panjang, karena dalam satu kelas hanya berisi sekitar 15 siswa. Kemudian, suasana ruang kelas tampak tidak terlalu ramai. Wajar, jumlah siswa dalam satu kelas itu berkurang separo dari kondisi normal.
Dalam ruang kelas itu, satu meja untuk satu siswa. Ada jarak juga antar meja itu, baik ke samping maupun ke depan belakang. Untuk siswa SMPN 1 Lumbang, tampak mengenakan masker saja. Namun ada juga siswa yang memakai face shield.
”Semua wajib pakai masker. Kalau tidak bawa masker saat masuk ke sekolah, disuruh pulang untuk mengambil. Karena kami (sekolah) sudah bagikan masker gratis ke para siswa,” kata Sujak, kepala SDN Lumbang 2.
Sujak mengatakan, total ada 150 siswa kelas I sampai kelas VI. Di tengah pandemi Covid-19 ini, pembelajaran tatap muka dengan kuota dalam satu ruang kelas separo. Sehingga, hanya sekitar 75 siswa yang kemarin datang ke sekolah untuk belajar tatap muka selama 3 jam. Sedangkan, sisanya dijadwalkan hari esoknya (hari ini, Red). Begitu juga hari-hari berikutnya terus bergantian.
”Dalam seminggu, kalau tidak ada tanggal merah, siswa itu belajar tatap muka di sekolah tiga kali. Karena aturannya dalam satu kelas, jumlah siswanya 50 persen dari kapasitas,” terangnya.
Halimah Febrianti, salah satu siswa kelas VI SDN Lumbang 2 mengaku, senang sekali bisa belajar di sekolah lagi bersama teman-teman. Sudah lama tidak belajar di sekolah dan kumpul bersama teman. Selama pandemi Covid-19, dirinya dan teman lainnya belajarnya melalui daring (dalam jaringan).
”Sudah capek belajar daring dan lebih sulit. Karena itu, pas ada pengumuman bisa masuk sekolah lagi, senang rasanya. Saya dan teman-teman juga siap ikuti aturan protokol kesehatn (prokes) supaya bisa tetap belajar di sekolah,” ungkap siswa asal Desa Lumbang itu.
Kondisi hampir sama diterapkan di SMPN 1 Lumbang. Bahkan, untuk mencegah kerumunan, pihak sekolah pun membagi tempat parkir kendaraan di lima titik. Satu titik, khusus untuk guru dan petugas sekolah. Empat titik itu, untuk parkir kendaraan siswa. Sehingga, mereka pun saat datang parkirkan motornya tidak sampai berkerumun.
”Termasuk waktunya pulang, kami beri jeda antar kelas. Nanti digilir ruang kelas dekat parkir lebih dulu keluar kelas, terus selang 2 sampai 5 menit, giliran siswa ruang kelas lainnya,” kata Mujiono, kepala SMPN 1 Lumbang.
Mujiono menambahkan, ada sekitar 100 siswa yang masuk belajar tatap muka di sekolah kemarin. Mereka kelas VII semua. Keesokan harinya giliran kelas VIII dan hari ketiga giliran siswa kelas IX. Karena, kelas VII, VIII dan IX masing-masing ada 4 kelas (rombel). Karena pandemi Covid-19, pembelajaran dipecah jadi 8 ruang kelas.
”Kami juga sudah pilah guru yang bisa mengajar di sekolah. dari 20 guru, hanya 8 guru yang dari zona hijau dan bisa mengajar tatap muka,” terangnya.
Nia Heni Oktavira, kelas VII SMPN 1 Lumbang mengatakan, orangtua dari rumah sudah ingatkan untuk pakai masker. Di sekolah, protokol kesehatan mulai dari masuk gerbang sekolah cek suhu, cuci tangan dan masker tidak boleh dilepas. ”Sudah lama ingin sekali bisa masuk sekolah di SMPN 1 Lumbang ini. sejak lulus SD, nunggu cukup lama untuk bisa rasakan sekolah tingkat SMP,” ujarnya. (mas/fun) Editor : Jawanto Arifin