Heri, kades Wonokerto di Kecamatan Sukapura mengatakan, harga kubis saat ini memang sangat rendah. Per kilogram hanya terjual Rp 200. Kondisi itu membuat petani memilih tidak menjual kubis hasil panen mereka.
”Harga itu tentu membuat petani merugi. Apalagi kalau dipanen, masih harus membayar ongkos jasa angkut dari lahan ke jalan raya. Ongkosnya Rp 100 per kilogram,” katanya.
Kondisi itu membuat petani di wilayah Bromo memutuskan tidak menjual kubis mereka. Termasuk Heri sendiri. Dia dan petani lain akhirnya membagi-bagikan secara gratis kubis itu pada masyarakat.
Kebetulan, kemarin (20/9) pagi dirinya berkunjung ke sanak keluarga di Maron. Dia pun membawa satu pikap kubis hasil panen. Lalu, kubis itu dibagi-bagikan pada warga sekitar.
”Daripada kubis itu dibakar atau dibiarkan membusuk, kami memutuskan untuk membagi-bagikan secara gratis. Kalau pun dijual, harganya tidak seberapa karena sangat murah,” ungkapnya.
Rencananya, menurut Heri, petani kubis akan membagi-bagikan kubis itu ke wisatawan Bromo tiap hari libur. Karena biasanya, saat hari libur kunjungan wisatawan lebih banyak dibanding hari biasa.
Nanti, bersama-sama warga gotong royong untuk panen kubis di lahannya. Hasilnya dibagikan ke wisatawan di Bromo. ”Nanti di hari libur Sabtu-Minggu, kami akan bagi-bagikan kubis itu ke wisatawan. Mungkin sehari bisa dua pikap kubis yang dibagikan,” terangnya. (mas/hn) Editor : Jawanto Arifin