Pantauan Jawa Pos Radar Bromo, Minggu (20/10) pagi, kawasan Bromo dilanda angin kencang. Pasir pun beterbangan dan membuat pandangan mata terganggu.
Hakim, salah seorang wisatawan mengatakan, badai pasir yang terjadi membuat pandangan menjadi terbatas. Karenanya, dia tidak bisa menikmati keindahan Bromo dari lautan pasir. "Mengganggu pandangan. Karena anginnya kencang dan menerbangkan debu," katanya.
Hakim yang datang bersama keluarganya, akhirnya naik ke tempat yang lebih tinggi. Dari situ baru dia bisa menikmati keindahan Bromo.
"Kami naik. Kemarin kami ke Seruni Point. Dari situ baru bisa dinikmati keindangan Bromo. Kalau tetap berada di lautan pasir pasti terganggu," ungkapnya.
Sarmin, kasi Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) wilayah satu mengatakan, kemarin angin memang berembus begitu kencang. Itulah yang membuat terjadinya badai pasir.
“Baru kemarin angin bertiup sedikit lebih kencang. Sebelumnya tidak begitu. Baru kali ini yang kencang," katanya.
Dia pun mengimbau kepada wisatawan yang berlibur ke kawasan Bromo untuk membawa kacamata dan masker. Terutama yang hendak ke lautan pasir. Tujuannya, untuk melindungi mata dari pasir.
"Itu yang harus disediakan. Kalau tidak, wisatawan akan terganggu,” jelasnya.
Sarmin pun menyebut, wisatawan masih bisa datang ke spot lain yang menarik, saat badai pasir terjadi di lautan pasir. Menurutnya, di Bromo bukan hanya lautan pasir yang bisa dikunjungi.
“Ada penanjakan, Seruni Point dan Bukit Mentigen. Dari situ keindahan Bromo juga tidak kalah menakjubkan,” tuturnya. (sid/hn) Editor : Jawanto Arifin