Kebakaran itu terjadi pukul 23.30. Diduga kuat, api tersebut berasal dari lilin yang ada di depan bangunan utama. Api menyambar vinyl dan tripleks hingga meluas ke bangunan utama yang difungsikan sebagai altar untuk tempat ibadah.
Lilin tersebut berada dalam bangunan semi permanen yang terbuat dari aluminium, triplek dan tertutup baner. Lilin-lilin saat itu dalam kondisi menyala, karena akan ada perayaan Waisak di Klenteng. Panas api terasa hingga keluar kompleks TITD.
“Panasnya api sudah terasa sejak dari pohon beringin itu. Padahal jaraknya sekitar 30 meter dari bangunan klenteng. Makanya tidak ada warga yang berani mendekat untuk memadamkan,” ujar Erfan Sutjianto, Ketua II TITD Sumber Naga.
Saat disinggung mengenai estimasi kerugian akibat kebakaran, Erfan –sapaan akrabnya– mengaku belum bisa memperkirakan. Pasalnya, bukan hanya bangunan fisik saja yang terbakar. Benda-benda bernilai sejarah yang ada di dalam Klenteng, juga turut hangus dilalap api.
“Seperti patung-patung ada yang usianya ratusan tahun. Kalau untuk membangun gedung bangunan yang rusak, paling tidak Rp 2-3 miliar,” ujarnya. Erfan mengungkapkan, di dalam klenteng terdapat sekitar 7 patung yang digunakan untuk beribadah. Ada juga di dalam sebuah ruangan, terdapat sekitar 15 patung.
“Dari 7 patung itu, 1 patung bisa diselamatkan, 2 patung rusak sebagian, 1 patung terbakar 50 persen. Sedangkan sisanya terbakar,” ujarnya. Termasuk patung utama, yakni patung dewa Kong Co Tan Hu Cin Tjin juga terbakar 50 persen. Padahal patung ini diperkirakan seusia dengan Klenteng. (put/fun) Editor : Jawanto Arifin