Tole dan Mithul sudah berpacaran hampir tiga tahun. Mereka terlibat cinta lokasi (cinlok) ketika sama-sama duduk di kelas I SMA. Meski masih bau kencur, mereka berdua seolah-olah sudah mantap berhubungan dan berniat melanjutkannya ke jenjang pernikahan.
Parahnya, mereka tak menyadari bahwa ada hal yang tidak boleh mereka lakukan sebelum menjalani prosesi sakral: akad nikah. Suatu ketika, Tole dan Minthul memanfaatkan momen kosongnya rumah untuk berpacaran. Kebetulan, saat itu orang tua Tole hendak menghadiri kondangan di Pasuruan.
Tole lantas menghubungi Mithul agar datang ke rumahnya. Tepat pukul 11.00, orang tua Tole keluar dari rumah. Tak berselang lama, Minthul datang ke rumah tersebut. Sesampainya di rumah Tole, motor dan sandal Minthul langsung diamankan ke dalam garasi.
Kedua insan berlainan jenis ini lantas menonton televisi di kamar Tole. Sejurus kemudian, Tole sudah melancarkan rayuan maut. Rupanya, Tole sudah menyiapkan niat jahat pada Minthul. Mulanya, Minthul menolak. Namun, karena terus dirayu, Minthul akhirnya mengiyakan ajakan Tole berbuat mesum.
Tiba-tiba, terdengar suara mobil masuk ke dalam halaman rumah Tole. Baik Tole maupun Minthul langsung pucat pasi. Setelah melongok ke jendela. Ternyata mobil itu adalah ayah dan ibunya. “Saya langsung lemas,” kata Tole. Ia dan Minthul langsung keluar kamar dan menonton televisi di ruang keluarga.
Ternyata, kepulangan rombongan itu karena ponsel ayah Tole tertinggal. Begitu masuk rumah, ayah dan ibu Tole kaget melihat anaknya berduaan.
Khawatir ada kejadian yang tidak diinginkan, Tole dan Minthul akhirnya diajak serta ke Pasuruan. Di perjalanan, mereka berdua diceramahi. “Saya diancam, kalau terjadi apa-apa dengan Minthul, tidak diakui lagi sebagai anak,” katanya melas. (rpd/rf) Editor : Jawanto Arifin