Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Bahasa Daerah sebagai Solusi Penyebaran Informasi dan Alat Mengakrabkan Diri

Ronald Fernando • Senin, 15 Mei 2023 | 01:00 WIB
ILUSTRASI
ILUSTRASI
Oleh Akhmad Idris

************************************************************************

Setiap tanggal 21 Februari, seluruh negara di dunia memperingatinya sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional. PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) meresmikannya dengan dukungan 188 negara pada tanggal 17 November 1999 gegara mempertimbangkan tragedi kerusuhan mahasiswa di Universitas Dhaka, Bangladesh. Tepat pada tanggal 21 Februari 1952, para mahasiswa Universitas Dhaka melakukan unjuk rasa besar-besaran guna menuntut pengakuan atas bahasa Bengali sebagai bahasa ibu suku Bengal sekaligus diakui sebagai bahasa resmi di Pakistan⸻sebelum Bangladesh berdiri sendiri seperti saat ini. Sementara Muhammad Ali Jinnah, Gubernur Jenderal Pakistan pada waktu itu menyatakan bahwa bahasa resmi Pakistan hanyalah Urdu. Ketidaksepemahaman inilah yang membuat unjuk rasa berubah menjadi rusuh, hingga menewaskan beberapa korban.

Lewat tragedi yang masih hangat di dalam ingatan tersebut, tampak jelas bahwa bahasa bukan hanya sekadar tentang alat komunikasi. Bahasa lebih dari itu, sebab bahasa adalah identitas. Tak berlebihan jika Jostein Gaarder (2018), penulis Dunia Shopie mennyatakan bahwa keberadaan seseorang ditentukan oleh keberadaan bahasa. Bahasa akan baik-baik saja tanpa keberadaan si A, namun si A tidak akan pernah baik-baik saja tanpa keberadaan bahasa. Sebagai bahasa yang kali pertama diperoleh dan dikuasai, bahasa ibu kebanyakan orang adalah bahasa daerah masing-masing. Sayangnya, nasib bahasa daerah di Indonesia dapat disebut tidak berbanding lurus dengan urgensi bahasa itu sendiri. Berdasarkan hasil penelitian Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud (2021), terdapat 36 bahasa yang berstatus aman yang tersebar di 18 provinsi, 19 bahasa bersatus stabil sekaligus terancam punah yang tersebar di 9 provinsi, 3 bahasa yang bersatus mengalami kemunduran di 2 provinsi, 24 bahasa terancam punah yang tersebar di 10 provinsi, 5 bahasa berstatus kritis yang tersebar di 3 provinsi, dan 11 bahasa berstatus punah yang tersebar di 4 provinsi.

Di dalam penelitian tersebut, juga disebutkan bahwa penyebab kepunahan bahasa daerah adalah penurunan secara drastis jumlah penuturnya. Selain itu, Dr. Hurip Danu Ismadi, M. Pd sebagai sosok yang pernah menjabat sebagai Kepala Pusat Pengembangan dan Perlindungan mengatakan bahwa perkembangan pesat IPTEK telah mengubah gaya berbahasa penutur usia muda yang ‘sedikit’ tidak bangga dengan bahasa daerahnya. Padahal, fakta-fakta yang ada justru menunjukkan hal yang sangat membanggakan. Di tengah sengkarut pandemi dengan virus yang terus bermutasi seperti saat ini, bahasa daerah ternyata dapat menjadi solusi penyebaran informasi yang benar dan tepat agar masyarakat tidak mudah termakan oleh hoaks tentang wabah Corona. Tak hanya itu, bahasa daerah juga dapat dimanfaatkan sebagai alat mengakrabkan diri untuk meredam suatu konflik. Bagaimanakah caranya?

Bahasa Daerah untuk Mengendalikan Wabah

Jika bersedia menilik sejarah ke belakang, maka akan ditemui sebuah cara menarik masyarakat terdahulu dalam menghadapi wabah. Beberapa tahun yang lalu, di wilayah utara Republik Kamerun, Afrika Tengah sempat terjangkit wabah Kolera. Sebagaimana negara-negara pada umumnya, pemerintah setempat mengimbau kepada masyarakat untuk melaksanakan anjuran pemerintah agar wabah Kolera tidak semakin membabi buta. Sayangnya imbauan tersebut tak digubris oleh masyarakat karena imbauan pemerintah disampaikan dengan bahasa Prancis, bahasa resmi negara tersebut. Beruntungnya, pemerintah segera tanggap dengan kondisi tersebut dan memutuskan untuk mengganti imbauan tersebut dengan bahasa daerah setempat, yakni bahasa Fufulde. Ternyata sikap tersebut berujung manis. Masyarakat lebih mudah memahami dengan bahasa daerah (Fufulde) daripada bahasa sebelumnya, sehingga mereka mulai melakukan hal-hal untuk menghindari wabah Kolera.

Belajar dari fakta di atas, sudah saatnya buku-buku panduan tentang mekanisme menghadapi wabah Corona yang ditulis dalam bahasa daerah mulai disebarkan ke seluruh penjuru Nusantara. Harapannya, istilah-istilah kesehatan yang masih terkesan asing di telinga masyarakat Indonesia, bisa terpahami dengan baik saat istilah-istilah tersebut dijelaskan ke dalam bahasa daerah. Selain bertujuan untuk memudahkan pemahaman tentang penanggulangan wabah Corona, buku panduan berbahasa daerah tersebut juga merupakan wujud pelestarian bahasa daerah yang terancam punah. Fakta di atas juga mengingatkan saya terhadap data dari UNESCO yang mengungkapkan bahwa sebanyak 50% siswa di dunia yang mengalami putus sekolah disebabkan oleh kesulitan memahami pelajaran. Kesulitan tersebut terjadi karena pihak sekolah memaksa mereka secara langsung untuk menggunakan cum memahami bahasa nasional yang pada dasarnya belum mereka kuasai dengan baik.

Bahasa Daerah sebagai ‘Jembatan’ Keakraban

Tak hanya mengendalikan wabah, bahasa daerah juga dapat dijadikan sebagai alat penjalin keakraban saat bertemu dengan orang-orang baru. Hal ini pernah dialami secara langsung oleh rekan saya saat menjadi seorang guru di salah satu sekolah swasta di Pasuruan. Kala itu, ada seorang siswa yang sedang bermasalah di sekolah. Ia melaporkan masalah tersebut kepada sang ayah dan sang ayah segera berangkat ke sekolah dengan maksud melabrak⸻tanpa melakukan validasi terlebih dahulu atas ucapan sang anak. Setiba di sekolah, sang ayah langsung mencari rekan saya yang kala itu merupakan wali kelas si siswa. Ketika sudah bertemu dengan rekan saya, sang ayah langsung mengomel dengan menggunakan bahasa dan logat khasnya, yakni bahasa Madura. Rekan saya mulai kebingungan sekaligus ketakutan karena dua hal, yakni karena menghadapi wali murid yang sedang marah-marah dan menghadapi bahasa yang tidak ia pahami sama sekali.

Kebetulan saat itu ada guru lain yang mengetahui tragedi tersebut dan sangat paham dengan bahasa Madura. Ia segera menghampiri ayah siswa bermasalah tersebut dan menyapanya dengan bahasa dan logat bahasa Madura. Seketika suasana menjadi cair, emosi wali murid juga perlahan mereda, dan percakapan dilanjutkan dengan suasana hangat. Ayah siswa bermasalah tersebut juga mulai memahami bahwa ternyata yang berhak disalahkan bukanlah wali kelasnya, tetapi anaknya sendiri. Terlihat ayah siswa bermasalah tersebut lebih komunikatif ketika berkomunikasi dengan orang yang sama-sama paham dengan bahasa daerahnya.

Akhir kata, bahasa daerah tak sekadar sebagai bahasa ibu belaka, ia juga dapat menjadi peredam pelbagai konflik. Mengamini slogan yang telah digaung-gaungkan oleh badan bahasa, yakni “Utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, kuasai bahasa asing”. Sekian dan selamat menikmati Hari Bahasa Ibu Internasional. (*)

Referensi

Badan Bahasa. (2021). Bahasa Ibu Terancam Punah, Generasi Muda Jangan Sampai Lengah. Jakarta: Kemendikbud. Diakses di https://badanbahasa.kemdikbud.go.id/berita-detail/3125/bahasa-ibu-terancam-punah-generasi-muda-jangan-sampai-lengah

Gaarder, Jostein. (2018). Dunia Shopie. Bandung: Mizan. Editor : Ronald Fernando
#opini radar bromo