DALAM kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai dua bentuk penulisan kata yang tampak serupa namun berbeda, yaitu aktivitas dan aktifitas.
Keduanya sering digunakan dalam berbagai konteks, baik di media massa, tulisan akademik, maupun percakapan informal.
Namun, perbedaan kecil pada huruf “f” dan “v” sering menimbulkan kebingungan: manakah yang benar menurut kaidah bahasa Indonesia dan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)?
Artikel ini akan membahas secara lengkap dasar penulisan yang benar, alasan linguistik di baliknya, serta contoh penggunaannya dalam kalimat.
1. Penulisan yang Benar Menurut KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi V, penulisan yang benar adalah “aktivitas”, bukan “aktifitas”.
Jika kita membuka laman resmi KBBI Daring, kata aktivitas tercantum dengan arti sebagai berikut:
aktivitas /ak·ti·vi·tas/ n: keaktifan; kegiatan; kesibukan.
Sementara itu, jika kita mengetik kata aktifitas di laman KBBI, maka hasilnya akan menampilkan pesan “tidak ditemukan entri”, atau akan diarahkan ke bentuk yang benar, yaitu aktivitas.
Dengan demikian, berdasarkan sumber rujukan bahasa resmi di Indonesia, penulisan yang baku adalah “aktivitas”.
2. Asal Usul Kata “Aktivitas”
Untuk memahami mengapa “aktivitas” menjadi bentuk yang benar, kita perlu melihat asal usul katanya. Kata aktivitas berasal dari bahasa Inggris “activity”, yang berakar dari bahasa Latin “activitas”, bentuk dari kata sifat “activus” yang berarti “giat” atau “aktif”.
Dalam bahasa Inggris, huruf c dalam activity diucapkan sebagai k, dan ketika diserap ke dalam bahasa Indonesia, bentuk fonetik tersebut disesuaikan menjadi aktivitas. Jadi, penyesuaian dilakukan bukan berdasarkan kata “aktif”, tetapi langsung dari akar kata “activity”.
Hal ini berbeda dengan anggapan sebagian orang bahwa karena ada kata “aktif”, maka bentuk turunannya seharusnya aktifitas. Padahal, kaidah serapan tidak selalu mengikuti bentuk dasar bahasa Indonesia, melainkan mempertahankan pola kata dari bahasa sumber, terutama jika kata tersebut diserap secara utuh.
3. Alasan Linguistik: Mengapa Huruf “v” yang Dipertahankan
Bahasa Indonesia sering menyerap kosakata dari bahasa asing, terutama dari bahasa Inggris, Belanda, dan Latin. Dalam proses penyerapan, ejaan disesuaikan dengan kaidah fonologi bahasa Indonesia. Namun, untuk kata yang telah mapan dan banyak digunakan secara akademis atau ilmiah, ejaan asli biasanya dipertahankan untuk menjaga konsistensi makna.
Huruf “v” dalam aktivitas termasuk dalam kategori itu. Dalam bahasa Indonesia modern, huruf “v” tetap digunakan dalam sejumlah kata serapan seperti:
- revolusi
- televisi
- inovasi
- motivasi
- konservatif
Jika huruf “v” diganti menjadi “f”, bentuk kata tersebut akan menyimpang dari kaidah baku dan dapat menimbulkan ketidakkonsistenan ejaan. Misalnya, jika kita menulis inofasi alih-alih inovasi, bentuk tersebut menjadi salah karena tidak sesuai dengan ejaan yang telah distandardisasi.
Oleh karena itu, penggunaan huruf “v” dalam aktivitas mengikuti pola serapan yang sama seperti kata-kata di atas.
4. Bentuk Turunan dan Penggunaannya dalam Kalimat
Sebagai kata benda, aktivitas dapat digunakan dalam berbagai konteks. Berikut beberapa contoh penggunaannya:
1. Kegiatan sehari-hari:
“Aktivitas belajar di sekolah kembali berjalan normal setelah libur panjang.
2. Konteks pekerjaan:
“Aktivitas karyawan meningkat menjelang akhir tahun.
3. Bidang ilmiah:
“Aktivitas enzim meningkat pada suhu tertentu.
4. Konteks sosial:
“Aktivitas masyarakat di taman kota menunjukkan kehidupan yang sehat dan dinamis.”
Kata aktivitas juga dapat membentuk turunan seperti beraktivitas dan keaktifan.
Contoh:
- “Anak-anak mulai beraktivitas di halaman sejak pagi.”
- “Keaktifan siswa dalam diskusi menunjukkan semangat belajar yang tinggi.”
Bentuk turunan tersebut tetap mempertahankan akar kata “aktivitas” dengan huruf “v”.
5. Mengapa Bentuk “Aktifitas” Masih Sering Digunakan
Meskipun “aktivitas” adalah bentuk yang benar, tidak dapat dipungkiri bahwa penulisan “aktifitas” masih sering dijumpai di berbagai media. Ada beberapa alasan mengapa hal ini terjadi:
1. Pengaruh kata dasar “aktif”
Banyak orang beranggapan bahwa karena kata dasarnya “aktif”, maka turunannya harus “aktifitas”. Ini adalah bentuk analogi yang wajar, tetapi tidak sesuai dengan kaidah serapan.
2. Kebiasaan lama sebelum standarisasi KBBI
Sebelum ejaan disempurnakan (EYD) diberlakukan secara luas pada 1972 dan diperbarui menjadi PUEBI, beberapa media atau buku menggunakan bentuk aktifitas. Namun, setelah KBBI hadir sebagai rujukan resmi, bentuk tersebut dianggap tidak baku.
3. Pengaruh fonetik dan kemudahan pengucapan
Dalam pengucapan sehari-hari, huruf “v” dan “f” sering terdengar mirip. Hal ini menyebabkan banyak orang tidak menyadari perbedaannya dalam tulisan.
4. Kurangnya kesadaran terhadap kaidah bahasa baku
Tidak semua penulis, terutama di media sosial atau konteks informal, memperhatikan aturan baku bahasa. Akibatnya, bentuk salah seperti “aktifitas” terus tersebar dan digunakan ulang.
6. Dampak Penggunaan Bentuk Tidak Baku
Menggunakan kata yang tidak baku seperti aktifitas mungkin tidak terlalu bermasalah dalam percakapan sehari-hari.
Namun, dalam konteks formal—seperti tulisan ilmiah, karya tulis, laporan resmi, atau dokumen pemerintahan—penggunaan bentuk yang tidak sesuai KBBI dianggap kurang profesional dan tidak sesuai standar kebahasaan.
Hal ini menunjukkan bahwa penulisan yang benar bukan hanya soal kebiasaan, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap standar bahasa nasional.
Bahasa terus berkembang, namun kaidah baku tetap diperlukan agar komunikasi tertulis tetap jelas, seragam, dan terjaga keilmuannya.
Kesalahan kecil seperti menulis “aktifitas” mungkin tampak sepele, tetapi jika dibiarkan, akan mengaburkan standar kebahasaan yang sudah dibangun dengan susah payah oleh lembaga resmi.
Sebagai penutur bahasa Indonesia, kita memiliki tanggung jawab untuk menggunakan bentuk yang benar, terutama dalam tulisan yang bersifat publik.
Jadi, mulai sekarang, jika Anda ingin menulis tentang kegiatan sehari-hari, pastikan untuk menuliskannya dengan benar: “aktivitas”, bukan “aktifitas”. Semoga bermanfaat. (*/wt)
Editor : Jawanto Arifin