PASURUAN, Radar Bromo - Pondok pesantren ternyata menjadi salah satu “produsen” sampah yang cukup tinggi.
Kondisi ini tak lepas dari jumlah warga pesantren, yang bisa mencapai ribuan.
Aktivitas ribuan warga pesantren yang sangat padat, secara otomatis memicu ledakan produksi sampah harian berskala besar.
Seperti Ponpes Ngalah di Desa Sengonagung, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan, yang bisa memproduksi hampir enam ton setiap pekannya.
Kondisi darurat ini, mendasari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pasuruan untuk menjadikan sektor pesantren sebagai sasaran prioritas intervensi pengelolaan sampah berkelanjutan.
Bahkan, pesantren setempat dijadikan proyek percontohan untuk penanganan sampah di lingkungan pesantren.
Kepala DLH Kabupaten Pasuruan, Nur Kholis, menegaskan melimpahnya produksi sampah di pesantren, merupakan konsekuensi logis dari tingginya konsentrasi massa di satu kawasan.
“Pondok pesantren ini menjadi prioritas. Sebab, di sana berkumpul banyak orang. Ketika aktivitas warga pesantren tinggi, otomatis potensi sampah yang dihasilkan juga mengikuti,” ujarnya.
Menurut Nur Kholis, gunungan sampah yang dihasilkan pesatnya aktivitas pesantren selama ini, belum tertangani dengan baik. Karena sistem pengelolaannya yang masih konvensional.
Sampah berkapasitas besar tersebut, biasanya hanya dikumpulkan dari asrama.
Kemudian dibawa ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS), dipilah seadanya, lalu sebagian berakhir dengan cara dibakar.
Pola penanganan seperti itu, dinilai sama sekali tidak menyentuh sumber masalah utama. Bahkan, justru menumpuk beban lingkungan di hilir.
Untuk memutus rantai ledakan sampah tersebut, program baru ini diluncurkan. Ribuan warga pondok dituntut memisahkan sampah organik dan anorganik secara mandiri.
Sisa makanan (organik) akan dikelola sesuai potensinya. Sementara plastik dan kertas, dipilah ketat agar bisa masuk kembali ke rantai daur ulang.
Guna memastikan program berjalan maksimal di tengah tingginya arus sampah harian, DLH turut menerjunkan tim fasilitator untuk memberikan pelatihan teknis langsung kepada pengelola dan santri.
Ketua DPRD Kabupaten Pasuruan, Samsul Hidayat, mengamini bahwa mereduksi tingginya produksi sampah di lembaga keagamaan ini, memiliki tantangan yang kompleks.
Menurutnya, persoalan utama bukan lagi terletak pada pemenuhan sarana fisik, melainkan bagaimana mengikis kebiasaan lama dari ribuan orang di dalam pondok.
“Tantangan terbesarnya bukan soal sarana. Tapi mengubah kebiasaan ribuan santri,” tegasnya.
Melalui pengubahan perilaku ribuan santri dalam memilah sampah sejak dari kamar asrama, diharapkan bisa menjadi solusi konkret.
Untuk menekan angka produksi sampah harian di Kabupaten Pasuruan secara signifikan. (tom/one)
Editor : Jawanto Arifin