Angin Kencang, Nelayan Pasuruan Pilih Tak Melaut

Fuad Alyzen • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 23:07 WIB

 

BENAHI JARING: Nelayan Pasuruan membenahi jaring saat tak melaut lantaran angin kencang. (Mokhamad Zubaidillah/ Radar Bromo)
BENAHI JARING: Nelayan Pasuruan membenahi jaring saat tak melaut lantaran angin kencang. (Mokhamad Zubaidillah/ Radar Bromo)

PASURUAN, Radar Bromo – Angin kencang yang bertiup dari utara dan timur dalam tiga hari terakhir memaksa nelayan di pesisir Kabupaten Pasuruan menghentikan aktivitas melaut. Selain ombak yang semakin tinggi, angin kencang membuat hasil tangkapan ikan menurun.

Pantauan di Desa Kemlaten, Kecamatan Nguling, Senin (3/8), deretan perahu nelayan berjajar di sepanjang pesisir. Aktivitas pelelangan ikan nyaris tak terlihat. Sebagian besar nelayan memanfaatkan waktu dengan memperbaiki jaring dan perahu untuk melaut.

Sama'i, 40, nelayan rajungan asal Desa Kemlaten mengaku sudah tiga hari terakhir tidak melaut. Biasanya ia mencari rajungan hingga perairan Waru, Kabupaten Sidoarjo.

"Sudah tiga hari ini anginnya sangat kencang dari arah utara. Kalau dipaksakan berangkat, risikonya besar sekali," ujarnya saat memperbaiki jaring rajungan di tepi pantai.

Solihin, 50, nelayan ikan kembung asal Kemlaten menegaskan hal serupa. Menurutnya, gelombang tinggi sudah mulai terasa ketika perahu baru berjarak sekitar dua kilometer dari bibir pantai.

"Ombak di tengah bisa lebih dari dua meter. Radius dua kilometer dari pantai saja sudah terasa gelombangnya. Apalagi kalau makin ke tengah," katanya.

Selain faktor keselamatan, kondisi tersebut juga berdampak pada pendapatan nelayan. Angin yang kencang membuat gerombolan ikan berpencar, sehingga hasil tangkapan jauh berkurang.

Baca Juga: Musim Angin Kencang, WHJR Tutup Sementara, Pemdes Liprak Kidul Tepis Terbengkalai  

"Ikannya sepi. Kalaupun nekat berangkat, seringnya melaut sebentar lalu balik karena kondisi tidak memungkinkan. Hasil tangkapan tidak sebanding dengan biaya solar dan perbekalan," imbuhnya.

Kewaspadaan nelayan semakin meningkat setelah kecelakaan laut yang menewaskan seorang nelayan asal Desa Penunggul, Kecamatan Nguling, Sabtu (1/8) malam. Perahu korban dihantam ombak saat melaut di tengah cuaca buruk.

"Musibah kemarin buat pelajaran betul. Daripada nyawa taruhannya, lebih baik cari selamat dulu di darat sambil benahi perahu dan jaring. Nanti kalau angin sudah tenang, baru melaut lagi," pungkas Solihin.

Kondisi di lapangan sama dengan prakiraan BMKG. Prakirawan Stasiun Meteorologi Juanda Sidoarjo Rendy Irawadi mengatakan, kondisi angin yang menguat berpengaruh terhadap peningkatan tinggi gelombang di perairan Jawa Timur.

"Kecepatan angin yang meningkat dapat memicu kenaikan tinggi gelombang. Kami mengimbau nelayan dan pengguna jasa pelayaran selalu memperbarui informasi cuaca maritim BMKG serta mengutamakan keselamatan selama beraktivitas di laut," ujarnya.

Berdasarkan informasi BMKG, menurutnya, tinggi gelombang di Perairan Pasuruan diperkirakan mencapai 0,55-0,76 meter pada 3–7 Agustus 2026. Tergolong rendah sebenarnya dibanding perairan selatan Jawa Timur.

Namun BMKG mengingatkan keberadaan awan kumulonimbus (Cb) dapat menyebabkan angin bertiup lebih kencang. Sehingga meningkatkan tinggi gelombang secara tiba-tiba.

Sedangkan di perairan selatan Jawa Timur, tinggi gelombang diprakirakan mencapai 2,5 hingga 2,7 meter. Sehingga masyarakat, khususnya nelayan, diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

Menindaklanjuti kondisi cuaca tersebut, Satuan Polisi Air dan Udara (Satpolairud) Polres Pasuruan Kota juga mengimbau seluruh nelayan agar tidak melaut ketika cuaca ekstrem. Keselamatan harus menjadi prioritas utama dibanding mengejar hasil tangkapan.

Kasat Polairud Polres Pasuruan Kota AKP Edy Suseno mengatakan, pihaknya terus memantau perkembangan cuaca dan berkoordinasi dengan BMKG maupun instansi terkait. Personel juga disiagakan untuk mengantisipasi apabila terjadi kondisi darurat di laut.

"Nelayan kami imbau menunda aktivitas melaut saat cuaca ekstrem, angin kencang, maupun gelombang tinggi. Utamakan keselamatan dengan selalu memantau informasi cuaca resmi dari BMKG. Gunakan juga alat pelindung diri yang memadai selama di perairan," ujarnya.

AKP Edy menambahkan, ada beberapa langkah yang perlu diperhatikan nelayan sebelum melaut. Di antaranya, menunda keberangkatan apabila cuaca buruk atau tanda-tanda alam menunjukkan kondisi tidak bersahabat.

Selain itu, memantau informasi cuaca maritim terbaru dari BMKG, selalu mengenakan pelampung (life jacket) saat berada di atas perahu. Serta menyiapkan alat komunikasi darurat untuk mengantisipasi kondisi terburuk.

"Kami juga menyiagakan unit SAR Satpolairud untuk memberikan respons cepat bila terjadi keadaan darurat atau kecelakaan laut. Namun kami berharap nelayan tidak mengambil risiko dengan memaksakan melaut saat cuaca belum memungkinkan," tegasnya. (zen/hn)

Editor : Muhammad Fahmi
tak melaut angin kencang nelayan pasuruan