Buntut Rentetan Tragedi Peluru Nyasar, Warga Lekok-Nguling Pasuruan Minta Latihan Tembak di Kawasan Puslatpur Dihentikan

Muhamad Busthomi • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 20:52 WIB

 

AUDIENSI: Perwakilan warga saat audiensi bersama Bupati Pasuruan Rusdi Sutejo di Kantor Bupati Pasuruan, Kompleks Perkantoran Pemkab Pasuruan, Rabu (5/8). (M. Busthomi/ Radar Bromo)
AUDIENSI: Perwakilan warga saat audiensi bersama Bupati Pasuruan Rusdi Sutejo di Kantor Bupati Pasuruan, Kompleks Perkantoran Pemkab Pasuruan, Rabu (5/8). (M. Busthomi/ Radar Bromo)

BANGIL, Radar Bromo–Hujan peluru nyasar yang berulang kali berubah jadi teror yang mengancam keselamatan. Warga 10 desa di Kecamatan Lekok dan Nguling, Kabupaten Pasuruan meminta latihan tembak di kawasan Pusat Latihan Pertempuran (Puslatpur) Marinir dihentikan.

Permintaan itu mencuat dalam audiensi bersama Bupati Pasuruan Rusdi Sutejo di Kantor Bupati Pasuruan, Kompleks Perkantoran Pemkab Pasuruan, Rabu (5/8).

Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Dalam beberapa pekan terakhir, sedikitnya empat rumah di Desa Alastlogo terdampak peluru nyasar. Total delapan proyektil bahkan berhasil ditemukan warga.

Tokoh masyarakat Desa Alastlogo Imam Supnadi mengatakan, insiden peluru nyasar sebenarnya bukan persoalan baru.

Saat dirinya masih menjabat kepala desa semasa tragedi Alastlogo 2007 silam, rumah-rumah warga juga pernah dihujani peluru. Anak-anak sampai trauma. Bahkan saat itu menimbulkan korban jiwa.

”Jangan sampai terjadi Alastlogo jilid dua. Risiko peluru mengenai warga sangat tinggi, karena setiap hari masyarakat mencari rumput di sekitar lokasi latihan,” ujarnya.

Baca Juga: Warga Alastlogo yang Masih Dihantui Trauma Peluru Nyasar, Setiap Ada Dentuman Latihan Selalu Bawa Kecemasan

Upaya penyelesaian pun sudah melewati empat periode presiden, mulai Megawati Soekarnoputri hingga Prabowo Subianto. Di tingkat daerah, lima periode bupati juga belum mampu menuntaskan konflik tersebut.

Baca Juga: Peluru Nyasar Terus Jadi Teror Warga Alastlogo, Dewan Tagih Peran Tim Ad Hoc

”Harapan kami setelah agenda di Komisi II DPR RI, persoalan ini benar-benar ada penyelesaiannya. Kami berharap Bupati bisa memfasilitasi komunikasi dengan institusi yang berwenang,” katanya.

Sekretaris Desa Alastlogo Sugianto membeberkan, laporan peluru nyasar langsung disampaikan kepada camat dan kapolsek.

Bersama pemerintah kecamatan, mereka juga mendatangi Puslatpur Marinir untuk melaporkan kejadian tersebut.

Di hadapan rombongan kata dia, komandan pelatih menyambut baik laporan tersebut. Namun, Puslatpur tidak mengakui peluru itu berasal dari latihan TNI AL dan berjanji melakukan evaluasi serta melaporkan kejadian itu ke Kodim.

Persoalan muncul setelah pertemuan selesai. Sugiono mengaku dituduh membuat cerita bohong.

Seharusnya menurutnya, TNI AL juga terbuka jika memang peluru-peluru yang  meneror warga itu bukan milik mereka.

Misalnya dengan melakukan uji forensik untuk memastikan proyektil itu milik institusi mana.

Alih-alih hal itu dilakukan, peluru nyasar kembali terjadi. Kondisi itulah yang kemudian memicu aksi protes warga karena merasa keselamatan mereka terancam.

Sugiono mengungkapkan, pihak desa juga menerima surat pemberitahuan adanya latihan tembak pada 7 - 17 Agustus mendatang.

Karena itu, warga meminta latihan dihentikan sementara sampai tim ad hoc dari Jakarta turun melakukan kajian.

”Kalau nanti masih ada peluru nyasar lagi bagaimana? Apa harus menunggu ada korban? Keselamatan warga harus menjadi prioritas,” tegasnya.

Menurut dia, dampak psikologis juga dirasakan anak-anak. Setelah insiden peluru nyasar, siswa SD di Alastlogo dipulangkan lebih awal karena guru maupun murid sama-sama merasa takut. (tom/hn)

Editor : Muhammad Fahmi
pasuruan Alastlogo nguling lekok peluru nyasar