GRATI, Radar Bromo-Aksi ratusan warga Alastlogo, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan memblokade jalan pantura Surabaya-Banyuwangi di depan kantor Makolatmar di Grati, bukan tanpa alasan.
Warga nekat melurug Makolatmar dan memblokade jalan karena merasa terancam dengan aktivitas latihan perang yang dilakukan beberapa hari terakhir.
Dalam dua hari terakhir, terdapat sejumlah insiden peluru dari latihan perang yang nyasar ke rumah-rumah warga.
Koordinator Aksi Sugiyanto menuturkan, aksi blokade ini dilakukan sebagai protes adanya peristiwa peluru nyasar di rumah warga karena latihan yang dilakukan TNI AL.
Latihan ini dilakukan sejak Rabu (22/7). Sayangnya, kata Sugiyanto, tidak ada pemberitahuan pada warga atas latihan tersebut.
Katanya, dalam latihan Rabu (22/7), ada empat peluru nyasar yang ditemukan warga Alastlogo. Desa ini memang dekat dengan Pusat Latihan Pertempuran (Puslatpur).
Baca Juga: Protes Peluru Nyasar, Warga Alastlogo Lekok Blokade Jalur Pantura di Depan Makolatmar Grati Pasuruan
Belum dapat penjelasan terkait insiden peluru nyasar di hari Rabu, selang sehari kemudian atau Kamis pagi (23/7), insiden peluru nyasar kembali terulang.
Kali ini ada tiga peluru nyasar yang ditemukan di sekitar rumah warga. Pihaknya pun melaporkan hal ini pada Kecamatan Lekok dan Polsek Lekok. Camat dan Kapolsek sempat mendatangi lokasi peluru nyasar.
"Tidak ada pemberitahuan ke warga. Setelah kami tanyakan ke TNI AL, latihan dilakukan beberapa hari sampai 2 Agustus. Ini yang kami persoalkan," katanya.
Pria yang juga Sekretaris Desa Alastologo ini menuturkan, tim Inafis Polres Pasuruan Kota sudah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).
Peluru yang ditemukan di TKP sudah diamankan. Ia meminta agar latihan yang dilakukan TNI AL tetap memperhatikan keselamatan masyarakat.
Pihaknya mendorong agar latihan dihentikan dahulu. Sampai ada kesepakatan yang menjamin peristiwa ini tidak terulang lagi.
Warga juga meminta jaminan dapat hidup dengan aman dan nyaman di rumah masing-masing. Latihan militer harus mengutamakan radius aman.
"Jangan sampai ada peluru nyasar lagi yang membahayakan warga setempat. Pastikan latihan militer tidak membahayakan warga setempat," tutur Sugiyanto.
Menurutnya, warga nekat menutup jalan agar ada respons dari pihak terkait. Sebab, masalah peluru nyasar ini sangat terkait dengan keselamatan warga.
Jangan sampai insiden peluru nyasar sampai melukai warga. “Bahkan, tadi pagi peluru nyasar hamper mengenai anak kecil. Keponakan saya sendiri. Kurang satu jengkal lagi,” terangnya.
Aksi blokade berjalan lama karena perundingan untuk memenuhi tuntutan masyarakat cukup alot. Masyarakat ingin permintaan agar pelatihan tak digelar lagi dan ditulis di atas materai.
Editor : Muhammad Fahmi