
MASALAH kesehatan kulit masih menjadi perhatian serius bagi masyarakat di wilayah Probolinggo dan sekitarnya. Salah satu penyakit kulit menular yang kerap dikeluhkan warga adalah Scabies. Di kalangan masyarakat lokal, penyakit ini lebih akrab dikenal dengan sebutan "Gudik" atau kudis.
Scabies merupakan penyakit kulit menular yang disebabkan oleh infestasi kutu atau tungau mikroskopis bernama Sarcoptes Scabiei. Kutu ini bereproduksi di permukaan kulit, lalu masuk dan bersarang di bawah lapisan kulit untuk bertelur, sehingga memicu reaksi alergi dan iritasi yang hebat.
Dokter Anindia Indraswari, M.Ked.Klin, Sp.DVE, selaku dokter Spesialis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika mengatakan, ada gejala khas dan fenomena satu rumah untuk penyakit scabies tersebut. Gejala utama yang paling mudah dikenali dari scabies adalah munculnya bintil-bintil kemerahan pada kulit.
Pada beberapa kasus, bintil tersebut bahkan bisa disertai nanah akibat infeksi sekunder. Area tubuh yang paling sering diserang meliputi sela-sela jari tangan dan kaki, pergelangan tangan dan kaki, area kelamin, bokong, hingga bisa menyebar ke hampir seluruh bagian tubuh.
”Ciri khas lain dari penyakit ini adalah rasa gatal yang sangat hebat dan memburuk secara signifikan pada malam hari. Kondisi ini terjadi karena tungau scabies lebih aktif bergerak di bawah kulit saat suhu tubuh menghangat di waktu tidur,” ungkap dokter lulusan FK Universitas Airlangga tahun 2023 itu.
Dokter di IHC RS Wonolangan mengungkapkan, scabies sifatnya yang sangat menular. Scabies memiliki fenomena khas di dalam keluarga. Jika ada satu anggota keluarga di dalam rumah yang terkena, biasanya dalam waktu singkat anggota keluarga lain akan mengalami keluhan gatal yang serupa. Sebab, jalur penularan yang cepat.
Penularan scabies terjadi melalui dua cara utama. Pertama adalah kontak fisik secara langsung, seperti bersalaman atau bersentuhan kulit dengan penderita dalam durasi yang lama.
Kedua adalah penularan tidak langsung melalui perantara benda yang digunakan bersama. ”Kutu scabies dapat bertahan hidup selama beberapa hari di luar tubuh manusia pada media seperti sprei kasur, bantal, guling, selimut, handuk, pakaian, hingga sajadah,” tambahnya.
Meski demikian, penyakit scabies dapat dicegah melalui putus rantai dengan air panas. Untuk mencegah penularan dan memutus siklus hidup tungau di lingkungan tempat tinggal, masyarakat diimbau untuk senantiasa menjaga kebersihan diri serta kebersihan di dalam maupun di luar rumah. Pencegahan mandiri yang dapat dilakukan mulai rajin mandi, keramas, dan rutin memotong kuku agar tidak menjadi tempat persembunyian kutu.



